Selain itu, ancaman banjir tetap menghantui, meski kota ini berada di ketinggian sekitar 45 meter di atas permukaan laut. Sistem drainase yang belum optimal menjadi faktor utama yang memperbesar risiko tersebut.
Polusi udara dan minimnya ruang terbuka hijau semakin menambah kompleksitas persoalan lingkungan di kota ini.
Saparudin pun mengajak semua pihak untuk belajar dari praktik baik negara lain, seperti Belanda, dalam mengelola persoalan lingkungan, khususnya banjir.
Namun, ia menegaskan bahwa solusi tidak bisa hanya datang dari pemerintah. Partisipasi masyarakat menjadi elemen penting dalam menciptakan perubahan.
“Kita butuh keterlibatan semua pihak. Lingkungan adalah tanggung jawab bersama, dan setiap orang harus menjadi bagian dari solusi,” tegasnya.












