“Buku ini bukan hanya untuk dibawa pulang. Mudah-mudahan bisa menjadi bahan bacaan dan pemikiran bagi adinda Imam dalam menjalankan amanahnya,” ujar Fadillah.
Pesan itu kemudian semakin dalam.
Fadillah berharap Imam Wahyudi mampu menjadi jembatan antara gagasan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Sebab, gagasan yang hanya berhenti di ruang diskusi tidak akan banyak berarti jika tidak pernah diterjemahkan menjadi tindakan.
“Semoga adinda Imam bisa menjembatani pemikiran-pemikiran cerdas ini untuk menjadi modal dalam menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi masyarakat,” katanya.
Imam Wahyudi menyambut pesan tersebut dengan penuh penghargaan.
Ia menyebut Fadillah Sabri bukan hanya seorang akademisi yang kebetulan berasal dari Kabupaten Bangka, tetapi juga sosok cendekia yang selama ini memberikan banyak inspirasi dalam pengembangan pendidikan di Bangka Belitung.
“Bapak Fadillah Sabri, selain sama-sama berasal dari Kabupaten Bangka, adalah sosok cendekia yang banyak menginspirasi kita. Beliau punya prinsip yang kuat dan sangat konsisten dalam mengembangkan dunia pendidikan di Bangka Belitung,” ujar Imam.
ImWa juga melihat perkembangan UNMUH Babel sebagai bukti bahwa sebuah institusi dapat tumbuh cepat ketika dipimpin dengan visi, konsistensi, dan keberanian untuk berinovasi.
“UNMUH Babel masih terbilang baru, tetapi dengan sentuhan pemikiran dan kepemimpinan beliau, perkembangannya luar biasa dan melesat. Ini tentu menjadi inspirasi bagi kita,” katanya.
Bagi Imam, pertemuan tersebut menjadi pengalaman berharga. Ia tidak hanya pulang membawa sebuah buku, tetapi juga membawa pesan tentang bagaimana seorang pemimpin harus terus belajar sebelum berbicara dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Sebab, menjadi wakil rakyat bukan hanya tentang mendengar keluhan. Ada tanggung jawab untuk memahami akar persoalan, mencari pengetahuan, lalu mengubahnya menjadi gagasan dan kebijakan.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari pertemuan tersebut.
ImWa datang membawa gagasan. Ia pulang membawa amanah.
Amanah bahwa pendidikan harus diperkuat. Anak muda harus diberi ruang untuk tumbuh. Lingkungan harus dijaga. Dan politik harus memiliki keberanian untuk mendengar suara ilmu pengetahuan.
Karena masa depan Bangka Belitung tidak semata-mata ditentukan oleh berapa banyak yang dibangun hari ini.
Masa depan daerah ditentukan oleh seberapa berkualitas manusia yang kelak mengelolanya—dan seberapa kuat mereka menjaga tanah yang diwariskan untuk generasi berikutnya.












