Bangka TengahBeritaPemerintahan

Dari PAUD hingga Masa Depan, Bangka Tengah Bergerak Lewat WAR 13 T untuk Hentikan Anak Putus Sekolah

×

Dari PAUD hingga Masa Depan, Bangka Tengah Bergerak Lewat WAR 13 T untuk Hentikan Anak Putus Sekolah

Sebarkan artikel ini

“Saat ini kita sedang gencar menyosialisasikan mengapa PAUD itu sangat penting, karena PAUD menjadi fondasi dasar. Kemudian kesiapan anak juga nanti ketika masuk ke SD, itu adanya transisi PAUD ke SD yang menyenangkan. Ketika program ini bisa dilaksanakan dengan baik, bukan hanya Angka Partisipasi Sekolah saja yang akan meningkat, tapi angka rata-rata lama sekolah juga akan meningkat,” ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Eva bersama Kepala Bidang PAUD Asmini bahkan menciptakan lagu tema “WAR 13 T” untuk membangun semangat dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan.

Tak hanya bergerak secara sosial, Bangka Tengah juga memperkuat langkah melalui inovasi teknologi. Dinas Pendidikan meluncurkan aplikasi SI PINTAR, sebuah sistem pemetaan anak usia pra sekolah berbasis website yang memungkinkan pendataan lebih akurat terhadap anak-anak yang belum mengakses PAUD.

Terobosan tersebut mendapat apresiasi dari Ombudsman Babel yang menyebut Bangka Tengah sebagai pelopor penerapan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) atau PPDB yang terintegrasi dan akuntabel di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Namun tantangan besar masih membayangi. Sekda Bangka Tengah Ahmad Syarifullah Nizam menyebut angka Rata-Rata Lama Sekolah yang masih berada di level 7,33 tahun menjadi pekerjaan rumah serius dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Sementara itu, akademisi Psikologi Islam IAIN SAS Babel, Wahyu Kurniawan, mengingatkan pentingnya pendekatan pendidikan yang sehat bagi anak usia dini.

Menurutnya, tekanan belajar yang berlebihan justru bisa mematikan kreativitas dan membuat anak kehilangan minat belajar sejak kecil.

“Anak-anak dari kecil jangan dijejali dengan calistung secara paksa. Hal itu mengakibatkan anak mengalami stres sejak dini. Secara struktur otak, anak usia dini itu alangkah baiknya bermain,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peran keluarga. Berdasarkan riset tahun 2023 terkait fatherless dan motherless, Wahyu menyebut akar persoalan anak tidak mau sekolah umumnya berasal dari lemahnya komunikasi di lingkungan keluarga.

Karena itu, keterlibatan orang tua dinilai menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan anak, terutama melalui quality time dan interaksi yang hangat di rumah.

Menutup kegiatan tersebut, Bupati Algafry Rahman mengajak seluruh elemen masyarakat dan media untuk ikut bergerak bersama menyuarakan pentingnya pendidikan, agar tidak ada lagi anak Bangka Tengah yang tertinggal dari bangku sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *