Dari Kampung Adat hingga Lampu Colok: Jejak Nyata Menjaga Warisan yang Hampir Terlupakan (E: Yosua.Asw)
PANGKALPINANG, LIPUTANSATU.COM, — Modernitas sering datang tanpa kompromi. Ia melaju cepat, kadang meninggalkan akar yang perlahan tergerus. Namun di tengah derasnya arus itu, adat dan budaya tetap menjadi jangkar yang menahan masyarakat agar tidak kehilangan arah.
Tradisi bukan sekadar peninggalan. Ia adalah identitas, perekat sosial, sekaligus cermin kearifan lokal yang tak ternilai.
Di berbagai daerah, warisan itu masih dijaga. Dari ritual adat hingga festival budaya, semuanya menjadi bukti bahwa masyarakat belum sepenuhnya menyerah pada zaman.
Melihat pentingnya hal ini, PT TIMAH (Persero) Tbk hadir mengambil bagian. Melalui program TJSL, perusahaan ini secara konsisten mendukung pelestarian budaya di wilayah operasionalnya.
Bukan hanya sebagai bentuk tanggung jawab sosial, tetapi sebagai komitmen menjaga identitas masyarakat.
Di Air Abik, Desa Gunung Muda, Kabupaten Bangka, berdiri Kampung Adat Gebong Memarong—ruang hidup Masyarakat Adat Mapur yang kini menjadi destinasi edukasi budaya.
Di sana, pengunjung tak hanya melihat bangunan tradisional, tetapi juga merasakan kehidupan adat yang masih berjalan. Tradisi Nuju Jerami pun tetap digelar, menjadi simbol hubungan manusia dengan alam.
Seorang warga setempat sempat berujar pelan, namun penuh makna,
“Dulu kami khawatir tradisi ini akan hilang. Tapi sekarang, orang luar justru datang untuk belajar dari kami.”
Di Bangka Barat, Perang Ketupat di Desa Tempilang tetap menjadi magnet budaya yang mempertemukan nilai spiritual, sejarah, dan kebersamaan dalam satu momentum.






