Pantai Menuang sendiri menawarkan panorama yang berbeda. Kawasan reklamasi yang dihiasi pohon cemara berpadu dengan hamparan mangrove hasil penanaman bersama PT TIMAH, sementara bekas kolong tambang yang berubah menjadi danau alami menghadirkan pemandangan yang memikat.
“Kalau air sedang pasang, warna airnya terlihat kebiruan sehingga menjadi pemandangan yang indah,” ungkapnya.
Ia meyakini Festival Menuang tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana edukasi bahwa kawasan pascatambang dapat dioptimalkan menjadi destinasi wisata yang memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.
Nur Kholis menambahkan, berbagai program sosial dan reklamasi yang selama ini dijalankan PT TIMAH telah memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Baskara Bakti.
“Kami kerap mendapatkan dukungan baik untuk kegiatan sosial maupun reklamasi. Alhamdulillah, pengembangan wisata, penanaman mangrove mendapat dukungan,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi yang telah terbangun dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak program yang mampu mendorong kemajuan desa, memperkuat pelestarian lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata.
“Kami berharap sinergi ini terus terjaga. Kehadiran PT TIMAH telah memberikan banyak manfaat bagi desa kami, baik melalui kegiatan sosial, reklamasi, maupun pengembangan kawasan wisata yang berdampak bagi masyarakat,” tutupnya.













