Di hadapan peserta dan tamu undangan, Puti Guntur Soekarno memberikan pandangan yang menggugah mengenai sosok Fatmawati.
“Ibu Fatmawati memang dikenal sebagai penjahit bendera pusaka Merah Putih. Tetapi sesungguhnya beliau juga seorang ibu yang sangat mencintai budaya membaca dan menulis. Anak-anaknya sejak kecil selalu dibiasakan membaca buku dan menulis. Itulah nilai yang perlu kita hidupkan kembali hari ini,” tutur Puti.
Menurutnya, pelestarian kebaya harus berjalan beriringan dengan pembangunan karakter dan budaya literasi agar generasi muda tidak tercerabut dari akar sejarah bangsanya.
Setelah melalui proses penjurian yang ketat, dewan juri menetapkan Lampung sebagai Juara I, disusul Bangka Belitung di posisi kedua, dan Sumatera Selatan sebagai Juara III.

Sekretaris DPD PDI Perjuangan Babel dan juga Anggota DPRD Babel Imam Wahyudi, saat jamuan makan malam di Warung Makan Mr.Adox, bersama Cece Desi dan rombongan Puti Guntur Soekarno, menyampaikan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Terima kasih kepada seluruh panitia, peserta, dewan juri, dan semua pihak yang telah bekerja keras. Kompetisinya sangat ketat, tetapi itulah yang menunjukkan kualitas para desainer muda kita,” ujar Imam.
Ia berharap para pemenang mampu membawa nama Regional 4 dengan prestasi terbaik pada ajang nasional sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah melalui karya-karya kebaya yang sarat makna.
Acara juga dihadiri Ketua DPD PDI Perjuangan Babel Didit Srigusjaya beserta istri, jajaran TP PKK Provinsi hingga kabupaten/kota, anggota DPRD, para ketua partai politik, tokoh perempuan, budayawan Achmad Elvian, serta berbagai unsur masyarakat.
Malam itu, Fatmawati Trophy tidak hanya melahirkan para juara. Lebih dari itu, ajang ini menjadi pengingat bahwa kebaya adalah identitas bangsa, sementara semangat literasi yang diwariskan Fatmawati Soekarno merupakan fondasi penting untuk membangun generasi Indonesia yang berbudaya, berkarakter, dan berdaya saing.












