H. Alpian pun memperkuat pesan tersebut. Ia menegaskan bahwa rasa syukur tidak boleh berhenti di lisan.
“Kalau kita benar-benar bersyukur, maka kita berbagi. Tidak perlu menunggu mampu sepenuhnya. Cukup mulai dari apa yang kita punya,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan pengurus musollah. Tanpa mereka, kebersamaan ini tidak akan terjadi.
Ketika santunan diberikan, suasana berubah hening. Ada haru yang tak perlu diucapkan. Senyum anak-anak yatim itu seolah menjadi cermin—bahwa di balik keterbatasan, masih ada harapan.
Menjelang berbuka, kebersamaan semakin terasa. Semua duduk bersama, menikmati hidangan tanpa jarak sosial, tanpa perbedaan status. Di situlah Ramadan menemukan maknanya yang paling sederhana: menyatukan.
Kegiatan ini bukan tentang satu sore yang penuh kebaikan. Ini tentang pesan yang harus terus hidup—bahwa kepedulian tidak boleh selesai bersama waktu berbuka.
Ramadan akan berlalu. Tapi seharusnya tidak dengan empati kita.
Karena pada akhirnya, yang membuat hidup ini berarti bukan apa yang kita kumpulkan, melainkan apa yang kita bagikan.












