“Ustadz IW orangnya berintegritas, luas dan berwawasan. Doa terbaik untuk Ustadz IW, semoga kuat dan istiqomah dalam memikul amanah rakyat,” ucapnya.
Sementara itu, semangkok demi semangkok lempah kuning menjadi saksi bagaimana silaturahmi bekerja dengan cara paling sederhana.
Pedas, asin dan asamnya kuah Lempah Kuning Ala Habang membuat peluh bercucuran. Tetapi tidak ada yang beranjak. Justru tawa dan percakapan semakin hangat.
Sebab hari itu bukan sekadar tentang makan.
Ada persahabatan yang dirawat. Ada doa yang dipanjatkan. Ada rasa syukur yang dibagikan.
Hingga suara azan Zhuhur terdengar.
Makan pun berhenti. Semua kembali diingatkan bahwa sebesar apa pun nikmat yang dirasakan, pada akhirnya manusia akan kembali kepada pemilik segala usia.
Ustadz Imam pun menutup kebersamaan itu dengan kalimat sederhana yang terasa kuat.
“Nanti kita lanjut lagi. Momen makan lempah kuning ini luar biasa. Lempah menyatukan rasa, silaturahmi menyatukan kita. Terima kasih semuanya, terlebih untuk chef kita, Aswandi. Racikan lempah kuningnya luar biasa, berasa sekali dan mak nyus,” tutupnya.
Karena pada akhirnya, usia bukan tentang berapa banyak angka yang bertambah.
Tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang sempat ditanam, seberapa banyak hati yang disentuh, dan seberapa bermanfaat hidup bagi orang lain.













