“Maka hari ini kami kumpulkan mereka untuk meminta SOP rumah sakit itu apa saja sih,” tambahnya.
Beliadi juga menekankan, pihaknya ingin mengevaluasi apakah SOP yang ada sudah berpihak pada rakyat dan adil bagi semua pihak. “Dari situ nanti kita cek, SOP mereka ini sudah mewakili suara hati rakyat atau belum?, atau sudahkah pihak rumah sakit adil kepada pasien-pasiennya?. Dari situ nanti kita bisa memberikan koreksi, SOP-nya harus seperti apa,” katanya.
Selain SOP, rapat ini juga membahas isu terkait BPJS dan kekurangan dokter spesialis.
Dalam hal ini Beliadi berpendapat bahwa meskipun BPJS telah menjelaskan sistemnya, namun nyatanya masih ada persoalan bagi pasien yang tunggakan iurannya belum lunas.
Hal semacam ini harus dicari jalan kemudahan bagi masyarakat, belum lagi kata direktur rumah sakit masih banyak kekurangan dokter. Dokter banyak tidak siap karena terkendala lokasi yang terpencil dan gaji yang minim.
“Alasannya untuk lokasi daerah terpencil, para dokter spesialis malas pak, ditambah lagi gajinya minim,” ujar Beliadi,
Beliadi menjelaskan sekalipun begitu pihak rumah sakit akan terus berupaya mencari jalan keluarnya.
Seperti yang sudah disampaikan kata beliadi rapat ini dirancang untuk menciptakan formulasi yang benar tentang pelayanan kesehatan dan SOP yang berpihak kepada rakyat, dan rumah sakit.
Pentingnya Peran Humas Rumah SakitMenurut Beliadi, untuk membangun komunikasi yang sehat kepada keluarga pasien agar tidak dirugikan, sebagai catatan masih ada laporan pasien yang sakit parah datang ke rumah sakit kemudian tidak diambil tindakan malah disuruh pulang dan akhirnya meninggal dunia.
“Masak ada pasien orang tuanya sakit parah datang ke rumah sakit tapi tidak ditahan dan diambil tindakan, tapi malah disuruh pulang, akhirnya meninggal dunia, datanglah kemudian pihak keluarga ke kita lapor dengan nada marah-marah,” tuturnya.
Untuk mencegah hal tersebut, Beliadi menekankan pentingnya peran humas rumah sakit dalam memberikan penjelasan dan mengutamakan komunikasi kepada pasien atau keluarga.
“Harus ada humas yang menjelaskan, oh misalnya bapak kamu atau ibu kamu ini sakitnya tuh hanya seperti ini, bisa dirawat di rumah dengan diberi obat ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Jangan sampai nanti orang tidak mengerti, dia pikir orang tua atau orang yang sakit tidak diterima lalu dibawa pulang, ajal pun tiba, nah kemudian jadi ribut.”pungkasnya.
Dengan adanya perbaikan SOP dan komunikasi yang lebih baik, Beliadi berharap kedepan masalah pelayanan kesehatan yang tidak diinginkan ini tidak akan terjadi lagi atau paling tidak bisa diminimalisir.












