BangkaBeritaPertambangan

Api Mengusir Mereka dari Rumah: Lebih dari 20 Satwa Jadi Korban Karhutla Babel

×

Api Mengusir Mereka dari Rumah: Lebih dari 20 Satwa Jadi Korban Karhutla Babel

Sebarkan artikel ini

Namun waktu juga menjadi pertimbangan. Satwa yang masih sehat dan baru dievakuasi dari alam dapat langsung dipindahkan ke habitat yang lebih aman. Tujuannya sederhana: menjaga insting liar mereka agar tidak hilang karena terlalu lama hidup dalam penanganan manusia.

Upaya tersebut menjadi bagian dari kolaborasi panjang ALOBI dan PT TIMAH yang telah berjalan lebih dari tujuh tahun.

Dalam periode itu, lebih dari 8.000 ekor satwa telah didukung untuk dikembalikan ke habitatnya.

“Untuk pusat penyelamatan satwa kita bekerja sama dengan PT TIMAH itu lebih dari tujuh tahun yang lalu. Kita telah sama-sama bersama PT TIMAH mengembalikan lebih dari delapan ribu ekor satwa ke habitatnya,” kata Langka.

Kini, PPS Alobi Air Jangkang di Kawasan Kampoeng Reklamasi Air Jangkang PT TIMAH kembali menjadi tempat persinggahan bagi satwa-satwa korban karhutla.

Mereka ditampung dan direhabilitasi sambil menunggu hutan kembali menyediakan kehidupan.

Hujan menjadi salah satu harapan.

Ketika musim hujan tiba, ekosistem diharapkan perlahan pulih. Pepohonan mulai tumbuh, sumber makanan kembali tersedia dan ruang hidup satwa dapat dipersiapkan untuk menerima mereka kembali.

“Pada saat ini kita akan lebih fokus menampung semua satwa yang menjadi korban kebakaran untuk direhabilitasi di PPS Alobi Kampung Reklamasi Timah di Jangkang. Kita menunggu musim hujan, sehingga ekosistem diharapkan kembali seperti semula. Setelah itu, kita akan bersama-sama mengembalikan satwa-satwa yang sudah kita rehabilitasi,” ujarnya.

ALOBI bersama PT TIMAH, BKSDA Sumatera Selatan dan pemangku kepentingan lainnya terus memperkuat koordinasi. Laporan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menemukan dan menyelamatkan satwa yang terjebak dalam situasi berbahaya.

Sebab, menyelamatkan satwa pada akhirnya bukan hanya tentang menyelamatkan kehidupan hari ini. Ini tentang memastikan generasi berikutnya masih dapat melihat kukang Bangka, tarsius, burung-burung liar dan satwa lainnya hidup di habitat yang semestinya.

Langka berharap kolaborasi tersebut terus berlanjut untuk menjaga biodiversitas Bangka Belitung.

“PT TIMAH sangat berkontribusi dalam penyelamatan satwa liar Bangka Belitung melalui Alobi Foundation sebagai mitranya. Semoga ke depannya akan terus bersama-sama menjaga kelestarian kekayaan biodiversitas Bangka Belitung,” katanya.

Karena hutan bukan hanya kumpulan pohon.

Di dalamnya ada rumah, makanan, tempat berkembang biak dan kehidupan.

Ketika rumah itu terbakar, manusia mungkin masih bisa mencari tempat lain. Tetapi bagi satwa liar, kehilangan habitat bisa berarti kehilangan kesempatan untuk hidup.

“Kalau mengutip dari teorinya, kita yang telah merusaknya, tetapi kitalah yang bisa memperbaikinya,” tutup Langka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *