“Karena itu, sejak tahun lalu dilakukan kajian ulang untuk merevisi metode penghitungan IDI. Kita ingin indikator yang digunakan benar-benar mencerminkan kondisi demokrasi saat ini,” jelas Agus.
Metode baru tersebut menyederhanakan tahapan perhitungan, dari sebelumnya empat tahap menjadi cukup sampai FGD. Selain itu, jumlah indikator juga dikurangi dari 28 menjadi 22 indikator, tetap dalam tiga aspek utama.
Pengumpulan data kini dilakukan melalui analisis media cetak, dokumen kebijakan publik, pemanfaatan big data dari tujuh portal berita online, serta pendalaman melalui FGD.
“Perubahan ini diharapkan membuat IDI lebih efektif dan kontekstual. Tahun 2024 lalu, Babel berhasil masuk 10 besar nasional. Ini capaian yang patut dipertahankan dan ditingkatkan,” paparnya.
FGD sendiri bertujuan untuk memverifikasi dan memperkaya data kuantitatif, sekaligus menggali informasi kualitatif yang belum terakomodasi dalam review media dan dokumen.
Dengan pembaruan metode ini, Pemprov Babel optimistis kualitas pengukuran demokrasi akan semakin akurat, sekaligus memperkuat komitmen daerah dalam membangun tata kelola pemerintahan yang demokratis, transparan, dan partisipatif.












