Deskripsi Gambar

BangkaBangka BelitungBeritaPemerintahanPolitik

“Di Dusun Puntik, Imam Wahyudi Dihadapkan pada Luka Lama: Janji yang Tak Kunjung Ada”

×

“Di Dusun Puntik, Imam Wahyudi Dihadapkan pada Luka Lama: Janji yang Tak Kunjung Ada”

Sebarkan artikel ini

“Di Dusun Puntik, Imam Wahyudi Dihadapkan pada Luka Lama: Janji yang Tak Kunjung Ada” (P/E: Yosua.Asw)

PUNTIK, LIPUTANSATU .COM, — Ada suasana berbeda dalam Reses Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Imam Wahyudi, S.IP., M.H., di Dusun Puntik, Desa Mapur, Balai Dusun, Minggu (13/9/2026).

Ratusan warga hadir. Mereka datang dengan antusias, tetapi juga membawa cerita lama tentang harapan yang pernah dititipkan kepada wakil rakyat sebelumnya dan kemudian menghilang bersama berakhirnya musim politik.

Di tengah pertemuan itu, Shobar, warga Dusun Puntik, memilih bicara apa adanya. Kalimatnya terdengar seperti sindiran, tetapi di baliknya tersimpan kekecewaan yang cukup dalam.

“Kami ini sebenarnya sudah kecewa, Pak. Sudah berapa banyak dewan yang datang saat Pileg dan Reses di dusun kami, tapi sampai hari ini hanya tinggal janji saja. Kami berharap reses kali ini berbeda, ada harapan baru dihasilkan setelah bertemu Imam Wahyudi,” katanya.

Kalimat tersebut membuat suasana reses seakan berubah. Sebab, yang dipertaruhkan bukan sekadar aspirasi tentang jalan, pupuk, bibit, peralatan olahraga, jembatan atau jaringan internet. Yang sedang dipertaruhkan adalah kepercayaan masyarakat kepada wakil rakyat.

Atet kemudian menyampaikan persoalan yang lebih konkret. Sebagai masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani, mereka membutuhkan dukungan yang benar-benar menyentuh kehidupan sehari-hari.

“Desa kami sekarang sangat membutuhkan bantuan pupuk subsidi dan bibit, karena mayoritas pencaharian kami adalah bertani,” ujarnya.

Persoalan warga ternyata tidak berhenti di lahan pertanian. Fasilitas kesehatan, fasilitas olahraga yang belum memadai, jalan menuju kebun yang masih harus diperbaiki, jembatan yang roboh, hingga belum tersedianya jaringan internet menjadi bagian dari keluhan yang mereka titipkan kepada Imam Wahyudi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *