Dalam situasi tersebut, Susanti menekankan bahwa pencegahan radikalisme membutuhkan keterlibatan bersama. Tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah atau aparat penegak hukum, melainkan harus dimulai dari keluarga dan diperkuat melalui lingkungan pendidikan.
Menurutnya, keluarga merupakan benteng awal dalam membangun daya tahan anak terhadap pengaruh negatif, termasuk paham ekstrem yang berkembang melalui ruang digital.
“Keluarga yang hangat dan terbuka akan melahirkan anak-anak yang tangguh, tidak mudah terpengaruh paham ekstrem, serta bijak bermedia sosial,” tuturnya.
Susanti juga mengajak para pelajar agar tidak menjadi konsumen informasi yang pasif. Mereka harus memiliki keberanian untuk memeriksa kebenaran informasi, berpikir kritis, dan menolak segala bentuk kekerasan.
“Khusus untuk anak-anak pelajar, kalian adalah penentu wajah Kota Pangkal Pinang di masa depan. Jadilah remaja yang cerdas berpikir, bijak bermedia, berani menolak kekerasan, dan selalu menjaga persatuan,” pesannya.
Ia turut mengapresiasi dukungan Dinas P3KAB, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta seluruh panitia TP PKK Kota Pangkalpinang yang telah mempersiapkan kegiatan tersebut.
Seminar menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya. Materi yang disampaikan diharapkan memperluas wawasan para pelajar mengenai bahaya radikalisme, pentingnya toleransi, etika bermedia sosial, dan tanggung jawab menjaga persatuan di tengah perkembangan teknologi.
Di tengah dunia yang semakin terkoneksi, pesan seminar ini menjadi pengingat: generasi yang cerdas bukan hanya mereka yang mampu mengakses informasi, tetapi juga yang mampu membedakan kebenaran dari hasutan dan memilih persatuan daripada kekerasan.












