Perempuan Lansia Bukan Beban, Mereka Aset dan Penggerak Kehidupan (E: Yosua.Asw)
PALEMBANG, LIPUTANSATU .COM, — Menua bukan berarti berhenti berdaya. Di balik usia yang terus bertambah, perempuan lansia tetap memikul tanggung jawab keluarga, bergerak dalam kegiatan ekonomi, aktif di tengah masyarakat, sekaligus menyimpan pengetahuan yang menjadi bagian penting dari kehidupan lintas generasi.
Pesan itulah yang mengemuka dalam peringatan Hari Lansia Internasional yang digelar di Palembang, Jumat (2/10/2026). Kegiatan tersebut mempertemukan organisasi perangkat daerah, organisasi perempuan, jaringan masyarakat sipil, serta organisasi dan mitra INKLUSI dari berbagai daerah di Indonesia.
Forum tersebut menjadi ruang untuk mendengarkan langsung pengalaman dan kebutuhan perempuan lansia, khususnya mereka yang tinggal di wilayah perdesaan dan kelompok marginal.
Konsultan Feminist Participatory Action Research (FPAR) dari PERMAMPU, Niken Lestari, memaparkan hasil asesmen kebutuhan strategis perempuan lansia dan pra-lansia di Pulau Sumatera. Hasil tersebut menggambarkan bahwa perempuan lansia masih menghadapi persoalan yang kompleks, mulai dari beban perawatan, akses layanan publik, kesehatan, hingga minimnya ruang untuk bersosialisasi dan mengekspresikan diri.
Koordinator Konsorsium PERMAMPU, Dina Lumbantobing, mengatakan perempuan lansia sesungguhnya telah lama menjadi bagian penting dalam pengorganisasian perempuan akar rumput yang tergabung dalam Credit Union (CU).
“Sekitar 20 persen anggota CU adalah perempuan lansia sesuai dengan definisi dalam UU, tanpa menafikan anggota lain yang memaknai dirinya sudah mulai menua sejak mengalami menopause di usia 50-an bahkan 40-an,” ujar Dina.
Menurutnya, dukungan INKLUSI dalam penguatan perspektif Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI) semakin memperkuat komitmen PERMAMPU untuk menghadirkan ruang bagi perempuan lansia agar dapat didengar, bersuara, sekaligus menyampaikan kebutuhan strategis mereka.
“Terutama perempuan lansia yang berada di perdesaan dan kelompok marginal,” tegasnya.
Dari asesmen FPAR tersebut, PERMAMPU menemukan sedikitnya lima persoalan penting yang masih membayangi kehidupan perempuan lansia.
Pertama, beban kerja perawatan masih tinggi dan belum sepenuhnya mendapatkan pengakuan. Di perdesaan, perempuan lansia tetap mengasuh cucu, merawat anggota keluarga yang sakit, mendampingi anak dengan disabilitas, sekaligus memenuhi kebutuhan dirinya sendiri.
Kerja perawatan yang menguras waktu dan tenaga itu, sayangnya, belum sepenuhnya diakui secara sosial maupun ekonomi. Karena itu, dibutuhkan pembagian tanggung jawab pengasuhan yang lebih adil di dalam keluarga maupun masyarakat.
Kedua, perempuan lansia tetap aktif secara ekonomi dan sosial. Mereka masih bertani, berdagang hingga menjadi kader CU. Usia, dengan demikian, bukan batas yang otomatis menghapus produktivitas dan kontribusi seseorang.
Persoalan ketiga adalah akses. Keterbatasan transportasi dan layanan publik berbasis digital justru berpotensi menciptakan bentuk eksklusi baru.
Pendaftaran layanan kesehatan melalui aplikasi, misalnya, dapat menjadi hambatan bagi perempuan lansia yang tidak memiliki akses atau kemampuan digital memadai. Karena itu, digitalisasi harus dibangun dengan pendekatan inklusif, bukan sekadar memindahkan layanan ke layar telepon seluler.
Keempat, persoalan kesehatan perempuan lansia tidak dapat dilepaskan dari pengalaman mereka sepanjang siklus hidup. Pasca-menopause, penyakit kronis dan gangguan buang air kecil menjadi sejumlah persoalan yang dihadapi. Di sisi lain, stigma serta anggapan tabu mengenai seksualitas perempuan lansia masih ditemukan.













