BangkaBeritaPertambangan

Menenun Masa Depan dari Aspirasi: Langkah PT TIMAH Membangun Kemandirian Masyarakat

13
×

Menenun Masa Depan dari Aspirasi: Langkah PT TIMAH Membangun Kemandirian Masyarakat

Sebarkan artikel ini

Menenun Masa Depan dari Aspirasi: Langkah PT TIMAH Membangun Kemandirian Masyarakat (E: Yosua.Asw)

BANGKA, LIPUTANSATU.COM, — Pembangunan yang kuat tidak lahir dari kebijakan sepihak. Ia tumbuh dari dialog, dari keberanian mendengar, dan dari kesediaan merangkul berbagai suara. Itulah semangat yang ditunjukkan PT TIMAH (Persero) Tbk dalam memperbarui Rencana Induk Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (RIPPM).

Bertempat di Gedung Cassiterite, Timah Learning Center Sungailiat, Senin (4/5/2026), perusahaan menggelar Focus Group Discussion (FGD) multipihak. Forum ini menghadirkan pemerintah daerah, akademisi, tokoh masyarakat, hingga media dalam satu ruang kolaborasi.

Di sinilah arah baru dirancang. Bukan hanya tentang program, tetapi tentang bagaimana memastikan setiap langkah benar-benar berdampak bagi masyarakat.

RIPPM PT TIMAH mencakup delapan pilar utama yang menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Namun dalam pembaruan ini, fokus dipertajam pada sektor pendidikan, ekonomi, lingkungan, sosial budaya, dan infrastruktur—bidang-bidang yang dinilai paling strategis dalam mendorong kemandirian.

Anggi Budiman Siahaan menegaskan bahwa penyusunan RIPPM bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan proses strategis yang harus adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.

“Kami ingin memastikan program yang disusun tidak hanya berjalan, tetapi juga benar-benar dirasakan manfaatnya,” ujarnya.

Diskusi berlangsung dinamis. Di sektor pendidikan, muncul keprihatinan terhadap akses yang belum merata, terutama bagi anak kurang mampu dan berkebutuhan khusus. Ada pula dorongan untuk memperluas kesempatan pendidikan tinggi serta meningkatkan kapasitas guru dan orang tua.

Sementara di sektor ekonomi, pembahasan bergerak pada upaya membangun kemandirian masyarakat melalui penguatan UMKM, digitalisasi, hingga pengembangan sektor pariwisata. Persoalan lahan, permodalan, dan pelatihan pascapanen turut menjadi perhatian serius.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *