Wihaji mengapresiasi keterlibatan PT TIMAH yang hadir sebagai orang tua asuh dalam program GENTING bersama pihak perbankan dan perusahaan lainnya.
“Sebelum stunting terjadi, kita harus menyelesaikan faktor penyebabnya. Salah satunya melalui bantuan rumah layak huni. Alhamdulillah, PT TIMAH hadir sebagai orang tua asuh bersama pihak perbankan dan perusahaan lainnya. Bantuan ini langsung dirasakan masyarakat tanpa melalui kementerian,” katanya.
Menurutnya, pemerintah memiliki keterbatasan dalam mempercepat seluruh pembangunan rumah layak huni melalui anggaran daerah karena terdapat berbagai persyaratan administratif yang harus dipenuhi.
Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu jalan untuk memperluas jangkauan manfaat.
“Kalau menggunakan APBD memang ada persyaratan administrasi yang harus dipenuhi. Karena itu, diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak agar semakin banyak masyarakat yang dapat merasakan manfaat program,” ujar Wihaji.
Bagi PT TIMAH, dukungan terhadap GENTING menjadi bukti bahwa program TJSL perusahaan diarahkan untuk menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Rumah layak huni bukan hanya soal tembok yang kokoh. Di dalamnya terdapat persoalan kesehatan keluarga, keamanan anak, sanitasi, kualitas lingkungan, hingga ruang bagi tumbuh kembang generasi masa depan.
Dengan demikian, membangun rumah bagi keluarga berisiko stunting berarti membangun salah satu fondasi pencegahannya.
Komitmen tersebut juga diperkuat melalui kolaborasi PT TIMAH bersama BKKBN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam kegiatan peningkatan Kapasitas Pengasuhan di Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA).
Langkah itu menunjukkan bahwa penanganan stunting membutuhkan pendekatan yang utuh: rumahnya dibenahi, lingkungannya disehatkan, pola asuhnya diperkuat, dan kebutuhan anak diperhatikan sejak awal kehidupannya.
Sebab, stunting bukan sekadar angka dalam laporan pemerintah.
Di balik setiap angka, ada seorang anak yang sedang tumbuh.
Dan di balik setiap anak, ada masa depan yang tidak boleh gagal hanya karena lingkungan tempat ia dilahirkan tidak pernah mendapatkan perhatian yang cukup.
Maka, ketika satu rumah diperbaiki hari ini, yang sebenarnya sedang dibangun bukan hanya tempat tinggal—tetapi peluang bagi sebuah keluarga untuk menyiapkan masa depan yang lebih sehat.












