Kafe Senang, Saksi Bisu Perjuangan yang Kini Jadi Magnet Hiburan Ramadan (P/E: Theo.Asw)
BELITUNG, LIPUTANSATU.COM,— Di bawah langit malam Bundaran Satam, denyut kehidupan terasa lebih kencang. Rabu (25/2/2026), kawasan Kafe Senang dipenuhi pengunjung yang ingin merayakan malam dengan santai namun berkesan. Dari generasi muda hingga orang tua, semuanya larut dalam atmosfer hangat yang sulit ditolak.

Live music menjadi daya tarik utama. Lagu dangdut dan pop mengalun akrab di telinga, menciptakan suasana penuh semangat. Pengunjung tak hanya menikmati kopi dan camilan, tetapi juga kebersamaan yang terasa akrab.
Di balik kemeriahan itu, tersimpan cerita lama. Unding, warga Belitung, bersama Theo — mantan Ketua Lintas Agama Kabupaten Belitung — mengisahkan bahwa kawasan ini dahulu merupakan area eksklusif milik Belanda. “Pribumi tak boleh masuk. Ini tempat orang Belanda berkumpul,” ungkap Unding.
Lebih jauh, ia menambahkan bahwa di depan kawasan tersebut berdiri tugu perjuangan masyarakat Babel. Tempat itu dipercaya sebagai lokasi penangkapan dan eksekusi belasan pejuang Belitung oleh penjajah. Jejak sejarah itu kini menjadi latar yang kontras dengan gemerlap hiburan malam.






