Perjalanan riset ini mendapat dukungan dari PT TIMAH (Persero) Tbk yang membantu pembiayaan uji laboratorium serta menyediakan peralatan produksi, termasuk mixer.
“Dukungan PT TIMAH sangat berarti bagi sekolah kami yang memiliki keterbatasan anggaran. Ini bukan hanya soal bantuan dana, tapi dorongan moral agar siswa berani berinovasi,” ungkap Herman.
Kini, produk hasil riset tersebut mulai dipasarkan secara terbatas sebagai langkah awal membangun kewirausahaan berbasis penelitian.
Sekolah ini sebelumnya juga aktif mengembangkan inovasi lain, seperti pengolahan biji karet menjadi minyak sabun—membuktikan bahwa semangat riset telah menjadi budaya.
Harapan pun disematkan pada kolaborasi berkelanjutan.
“Semoga kerja sama ini terus berjalan dan semakin banyak inovator muda lahir dari Belitung Timur,” harap Herman.
Dari gedebong pisang yang sederhana, lahir gagasan luar biasa. Sebuah bukti bahwa masa depan daerah dibangun dari keberanian generasi mudanya untuk berpikir berbeda dan berbuat nyata.












