Dari Laut ke Darat: Ketika Fiber Baru Mengubah Nasib Nelayan Sungai Ulim (E: Yosua.Asw)
BANGKA SELATAN, LIPUTANSATU.COM, — Bagi nelayan, hasil tangkapan bukan hanya soal banyak atau sedikit. Tapi soal seberapa lama ia bisa bertahan sebelum sampai ke darat.
Di Kelompok Nelayan Sungai Ulim, Desa Batu Betumpang, persoalan itu sempat menjadi beban yang tak terucap. Peralatan yang rusak membuat hasil tangkapan tak mampu bertahan, dan harga pun jatuh sebelum sempat dinikmati.
“Kadang kami sudah capek melaut dua hari, tapi ikan cepat rusak. Rasanya seperti kerja sia-sia,” ungkap Mudiman, Ketua Kelompok Nelayan.
Namun keadaan itu perlahan berubah. PT TIMAH (Persero) Tbk hadir dengan memberikan bantuan fiber ikan—alat sederhana yang justru menjadi kunci penting dalam menjaga kualitas hasil tangkapan.
Kelompok yang beranggotakan 11 nelayan ini selama ini mengandalkan fiber lama yang sudah tak layak pakai. Retak, bocor, dan tak mampu lagi menjaga suhu dingin.
“Kalau fiber rusak, es cepat habis. Ikan jadi tidak segar. Pembeli juga tidak mau ambil dengan harga bagus,” jelas Mudiman.
Dalam sebuah obrolan santai di dermaga, seorang nelayan lain menimpali,
“Kadang bukan laut yang keras, tapi peralatan kita yang tidak sanggup bertahan.”






