Namun, pesan paling kuat datang dari Dr. Roby Robert Repi. Ia mengingatkan bahwa kekuatan alumni tidak diukur dari seberapa keras berdebat, melainkan seberapa nyata kontribusi yang diberikan.
“Tugas kita bukan hanya bicara ideologi, tapi menjadikannya kebijakan yang berpihak pada rakyat. Kita harus masuk ke ruang-ruang strategis dan membawa gagasan itu menjadi nyata,” tegasnya.
Ia menekankan, Marhaenisme harus diterjemahkan ke dalam langkah konkret—baik dalam kebijakan ekonomi, politik, maupun pembangunan daerah yang berkeadilan.
Menurutnya, alumni GMNI harus hadir di berbagai lini: pemerintahan, swasta, hingga ruang-ruang pengambilan keputusan. Nasionalisme, kata dia, bukan sekadar slogan, melainkan instrumen yang selalu relevan dalam perjalanan bangsa.
“Kalau kita hanya berhenti di wacana, kita akan tertinggal. Alumni GMNI harus bergerak, harus hadir, dan harus memberi dampak,” ujarnya.
Konferda ini bukan sekadar agenda organisasi, melainkan deklarasi bahwa PA GMNI siap menjadi kekuatan strategis di Bangka Belitung—mengawal arah pembangunan agar tetap berpijak pada keadilan sosial dan keberpihakan kepada kaum Marhaen.












