Deskripsi Gambar

BeritaORGANISASIPangkalpinang

Bukan Sekadar Sate: 234 SC dan SAPMA PP Menjaga Api Sejarah di Pangkalpinang

×

Bukan Sekadar Sate: 234 SC dan SAPMA PP Menjaga Api Sejarah di Pangkalpinang

Sebarkan artikel ini

Menurutnya, perjalanan Pemuda Pancasila di Bangka Belitung tidak bisa dilepaskan dari orang-orang yang pernah memberikan tenaga, pikiran dan pengabdian bagi organisasi.

Salah satunya adalah Agus Marsalim yang disebut memiliki jejak dalam sejarah Kota Pangkalpinang. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh senior dan pewaris NV Mebi, yang pada masanya berkaitan dengan sejumlah usaha, termasuk pengelolaan bioskop seperti Aurora, Surya di Jalan Garuda dan Bioskop Banteng.

Bioskop Banteng bahkan dikenal sebagai salah satu bioskop tertua di Indonesia.

Jejak itu menunjukkan bahwa sebuah kota tidak dibangun hanya oleh gedung-gedung yang masih berdiri hari ini. Kota juga dibangun oleh manusia dan kisah yang perlahan bisa hilang jika tidak pernah diceritakan.

Karena itu, bagi 234 SC dan SAPMA PP, kegiatan sosial tersebut menjadi dua hal sekaligus: berbagi kepada mereka yang membutuhkan dan merawat ingatan terhadap mereka yang telah lebih dahulu berjuang.

“Kami ingin kegiatan seperti ini terus berjalan. Kalau hari ini jumlahnya belum banyak, mudah-mudahan ke depan bisa lebih besar. Yang penting bukan hanya jumlah makanan, tetapi jumlah kepedulian yang tumbuh,” ujar Derry.

Ia berharap kebersamaan antara 234 SC dan SAPMA PP di Bangka Belitung semakin kuat dan mampu melahirkan lebih banyak kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sebab organisasi, pada akhirnya, tidak hanya diukur dari seberapa besar namanya dikenal.

Organisasi juga diuji dari seberapa jauh anggotanya mampu hadir ketika masyarakat membutuhkan, seberapa kuat mereka menjaga solidaritas, dan seberapa teguh mereka menghormati sejarah yang telah membentuk perjalanan mereka.

Dari pinggir jalan Pangkalpinang, pesan itu kembali ditegaskan: kemerdekaan harus dirasakan, solidaritas harus dilakukan, dan sejarah harus dijaga.

Sekali layar terkembang, surut kita berpantang.

FREE FALL, MERDEKA!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *