Bukan Sekadar Soal Timah, MPC Pemuda Pancasila Minta PT TIMAH Dengarkan Suara Belitung Timur (E: Yosua.Asw)
BELITUNG TIMUR, LIPUTANSATU.COM, — Jalanan boleh kembali tenang setelah demonstrasi. Massa boleh membubarkan diri. Namun satu hal tidak boleh ikut menghilang: keresahan masyarakat.
Itulah yang menjadi perhatian Ketua MPC Pemuda Pancasila Belitung Timur, Irwansyah, setelah aksi demonstrasi terjadi di wilayah operasional PT TIMAH.
Menurutnya, peristiwa tersebut harus dibaca sebagai alarm sekaligus momentum. Alarm bahwa ada persoalan yang belum selesai, dan momentum untuk membuka kembali komunikasi yang lebih jujur antara PT TIMAH dan masyarakat.
“Jangan hanya melihat demonstrasinya. Kita harus melihat apa yang ada di balik demonstrasi itu. Ada keresahan yang sudah cukup lama dirasakan masyarakat,” kata Irwansyah.
Ia menyebut salah satu persoalan yang mengemuka berkaitan dengan harga dan mekanisme pembelian bijih timah masyarakat.
Ketika hasil tambang sulit terserap, persoalan tidak berhenti pada angka di atas kertas. Bagi masyarakat kecil, itu menyangkut dapur, biaya sekolah anak, kebutuhan keluarga hingga keberlangsungan hidup sehari-hari.
Karena itu, Irwansyah meminta persoalan tersebut tidak dibiarkan berlarut.
Ia juga mengingatkan bahwa PT TIMAH bukanlah entitas asing bagi masyarakat Belitung Timur. Ada sejarah panjang yang menghubungkan perusahaan dengan kehidupan masyarakat.
“PT TIMAH punya sejarah panjang di Belitung Timur. Ada kontribusi yang pernah dirasakan masyarakat, termasuk dukungan terhadap pembangunan jalan, rumah sakit, sekolah dan pembangkit listrik,” ujarnya.
Karena itu pula, ia berharap hubungan antara perusahaan dan masyarakat tidak berhenti pada masa lalu.
“Kami berharap PT TIMAH comeback again ke wilayah karena masyarakat rata-rata hidup dari tambang. Kami tetap berprasangka baik. Kami berharap PT TIMAH kembali hadir bersama masyarakat,” katanya.
Menurut Irwansyah, salah satu cara paling sederhana untuk mengembalikan kepercayaan adalah membuka pintu komunikasi.
Bukan komunikasi yang hanya muncul ketika demonstrasi pecah. Bukan pula pertemuan yang berlangsung setelah persoalan membesar.
Yang dibutuhkan adalah komunikasi yang rutin, terbuka dan langsung menyentuh persoalan di lapangan.
“Transparansi dan keterbukaan sangat penting. Kami berharap jajaran PT TIMAH di wilayah mau bertemu dengan aktivis, LSM, ormas dan kelompok masyarakat. Rangkul mereka. Mereka adalah bagian dari kultur masyarakat Belitung Timur,” tegasnya.
Ia menilai masyarakat juga membutuhkan informasi yang jelas mengenai aturan, kebijakan pembelian dan mekanisme penjualan bijih timah.
Sebab ketika informasi resmi tidak cukup hadir, ruang kosong akan mudah diisi kabar yang belum tentu utuh.
“Kalau masyarakat memahami aturan dan mekanismenya, banyak kesalahpahaman yang bisa dicegah. Jangan sampai masyarakat hanya mendapat penjelasan setelah masalah muncul,” ujarnya.
Persoalan berikutnya adalah akses pembelian.
Irwansyah menilai keterbatasan kapasitas penyerapan dapat menciptakan antrean dan ketidakpastian bagi penambang rakyat yang memenuhi ketentuan.













