Deskripsi Gambar

Bangka TengahBeritaORGANISASIPendidikanPerguruan Tinggi

Bukan Sekadar Promosi, UBB Siapkan Desa Namang Mengelola Wisata di Era Digital

×

Bukan Sekadar Promosi, UBB Siapkan Desa Namang Mengelola Wisata di Era Digital

Sebarkan artikel ini

Muhammad Jumnahdi, S.T., M.T., bagian dari Tim Pengabdian UBB, menegaskan bahwa transformasi digital desa wisata tidak cukup berhenti pada penyediaan sistem. Teknologi harus benar-benar digunakan dan dikelola oleh masyarakat agar memberikan manfaat jangka panjang.

“Kita ingin teknologi informasi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat desa. Bukan hanya membuat sebuah sistem, tetapi memastikan sistem tersebut dapat dikelola, diperbarui, dan digunakan untuk mendukung promosi serta pengembangan potensi wisata Desa Namang,” ungkap Jumnahdi.

Ia menjelaskan, sistem informasi yang efektif membutuhkan pengelola yang mampu menyajikan informasi secara menarik, mudah diakses, dan diperbarui secara berkala. Tanpa kesiapan sumber daya manusia, teknologi berisiko hanya menjadi fasilitas yang tidak dimanfaatkan secara optimal.

Karena itu, pendampingan UBB juga menekankan peningkatan kapasitas pengelola di tingkat desa. Masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi mampu mengambil peran langsung dalam memperbarui informasi, mempromosikan produk lokal, dan mengembangkan layanan wisata.

Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai aktor utama pembangunan pariwisata, sementara perguruan tinggi berperan mendampingi proses penguatan kapasitas dan pencarian solusi atas persoalan yang dihadapi.

Sinergi Menentukan Masa Depan Namang

Tim UBB memandang pengembangan Desa Wisata Namang membutuhkan kerja bersama yang berkesinambungan. Pemerintah desa, Pokdarwis, pelaku UMKM, masyarakat, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya perlu bergerak dalam arah yang sama.

Antusiasme perangkat desa dan Pokdarwis selama kegiatan tercermin dari keaktifan mereka dalam menyampaikan masukan dan berdiskusi mengenai kebutuhan pengembangan wisata. Pertukaran gagasan tersebut menjadi langkah penting untuk menyusun pendekatan yang sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.

“Pendampingan ini merupakan proses bersama. UBB tidak datang hanya untuk memberikan materi, tetapi juga mendengarkan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi masyarakat. Dari sana kemudian kita mencari solusi yang bisa diterapkan dan dikembangkan secara berkelanjutan,” demikian pesan dari perspektif Tim UBB.

Selain digitalisasi, pengembangan desa wisata juga membutuhkan penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan produk lokal, promosi berkelanjutan, dan koordinasi antarpemangku kepentingan.

Kajian terbaru UBB tentang Desa Wisata Namang turut menunjukkan bahwa desa ini memiliki modal penting berupa kekayaan alam, ekonomi lokal, budaya, kelembagaan, dan partisipasi masyarakat. Kendati demikian, penguatan perencanaan, koordinasi, pemerataan manfaat ekonomi, serta pengelolaan budaya dan lingkungan masih diperlukan.

Artinya, pekerjaan membangun desa wisata tidak berhenti ketika sebuah sistem informasi tersedia. Tantangan berikutnya adalah memastikan sistem tersebut berjalan, potensi lokal berkembang, dan manfaat pariwisata dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat.

Melalui program PkM 2026, UBB berharap Desa Wisata Namang semakin siap menghadapi perubahan kebutuhan wisatawan dan persaingan destinasi. Dengan teknologi yang tepat guna, pengelolaan yang kuat, serta partisipasi masyarakat, Namang memiliki peluang untuk berkembang menjadi destinasi yang lebih dikenal tanpa kehilangan jati diri dan kearifan lokalnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *