Deskripsi Gambar

Bangka BelitungBeritaPangkalpinangPolitik

Sopir Kehilangan Tiga Perjalanan, Pedagang Tercekik Biaya: DPRD Babel Soroti Krisis Akses BBM

×

Sopir Kehilangan Tiga Perjalanan, Pedagang Tercekik Biaya: DPRD Babel Soroti Krisis Akses BBM

Sebarkan artikel ini

Sopir Kehilangan Tiga Perjalanan, Pedagang Tercekik Biaya: DPRD Babel Soroti Krisis Akses BBM (E: Yosua.Asw)

PANGKALPINANG, LIPUTANSATU.COM, — Sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) mulai menggerus produktivitas masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), harga eceran yang tinggi, dan keterbatasan akses tidak hanya menguras waktu, tetapi juga memangkas peluang masyarakat untuk memperoleh penghasilan.

Keluhan itu disampaikan masyarakat saat beraudiensi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (27/10/2026).

Dalam pertemuan tersebut, warga mengungkapkan bahwa antrean kendaraan di sejumlah SPBU bahkan mengular hingga ke pinggir jalan. Kondisi ini dinilai mengganggu kelancaran lalu lintas sekaligus menghambat aktivitas ekonomi, terutama bagi sopir lintas, pedagang, nelayan, dan petani yang sangat bergantung pada ketersediaan BBM.

Ketua DPRD Babel, Didit Srigusjaya, menganggap situasi tersebut sudah tidak bisa dipandang sebagai persoalan biasa. Ia meminta kendala distribusi BBM ditelusuri agar masyarakat tidak terus menanggung dampaknya.

“Ini menurut kita sudah di luar batas kewajaran. Maka sudah kita pertanyakan kendala-kendala ini di mana. Kalau ini dibiarkan, saya khawatir ini akan menjadi masalah sosial di Bangka Belitung,” kata Didit.

Peringatan tersebut menegaskan bahwa persoalan BBM perlu segera ditangani secara menyeluruh. Sebab, ketika masyarakat kesulitan mendapatkan bahan bakar, dampaknya menjalar ke berbagai sektor dan berpotensi mengganggu stabilitas aktivitas ekonomi daerah.

Dari Lima Perjalanan Menjadi Dua

Salah satu dampak paling nyata dirasakan para sopir lintas. Waktu yang tersita untuk mengantre BBM membuat jumlah perjalanan mereka menurun drastis.

Jika sebelumnya seorang sopir dapat melakukan hingga lima kali perjalanan, kini jumlahnya hanya sekitar dua kali perjalanan. Berkurangnya frekuensi perjalanan itu berpotensi menekan pendapatan sekaligus mengurangi produktivitas kerja.

Keluhan serupa datang dari kalangan pedagang. Meningkatnya biaya pengiriman barang membuat kegiatan usaha semakin terbebani. Apabila kondisi tersebut berlangsung lama, biaya tambahan itu dapat memengaruhi keuntungan pedagang dan berpotensi berimbas pada harga barang yang dibeli masyarakat.

Nelayan dan petani juga menghadapi persoalan akses BBM untuk menunjang kegiatan produksi. Karena itu, masyarakat meminta penanganan yang tidak hanya berfokus pada antrean di SPBU, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan kelompok yang menggunakan BBM untuk bekerja.

Harga BBM Eceran Tembus Rp17 Ribu

Persoalan semakin berat ketika masyarakat harus membeli BBM melalui pengecer dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Dalam audiensi tersebut, harga BBM eceran dilaporkan berkisar Rp14.000 hingga Rp15.000 per liter. Sementara di wilayah Tempilang, harganya bahkan mencapai Rp17.000 per liter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *