Almaster Mengetuk DPRD: Kami Bukan Anti-Timah, Kami Hanya Ingin Rakyat Tak Kehilangan Kepastian (E: Yosua.Asw)
PANGKALPINANG, LIPUTANSATU .COM, — Timah bagi Bangka Belitung bukan sekadar mineral yang tersimpan di perut bumi. Ia adalah sejarah, sumber penghidupan, sekaligus bagian dari denyut ekonomi masyarakat yang diwariskan lintas generasi.
Tetapi ketika pertambangan melahirkan persoalan, suara masyarakat pun tak bisa selamanya dibiarkan berhenti di pinggir jalan.
Suara itu dibawa Aliansi Masyarakat Terzolimi (Almaster) Bangka Belitung ke Gedung DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (10/9/2026).
Dalam aksinya, Almaster menyampaikan lima persoalan yang dinilai membutuhkan perhatian serius.
Mulai dari persoalan kawasan hutan di Kecamatan Lubuk, Bangka Tengah, yang bersinggungan dengan ruang hidup masyarakat; evaluasi tugas dan kewenangan Satlap Trisakti serta Satgas PKH; transparansi PT TIMAH mengenai mitra tambang dan rendahnya harga pembelian pasir timah masyarakat; penghentian generalisasi narasi penyelundupan timah dari Belitung ke Bangka; hingga kepastian hukum terkait RUU Perampasan Aset.
Di balik tuntutan tersebut, ada satu pesan yang ingin ditegaskan Almaster: kritik tidak selalu berarti kebencian.
Ketua Almaster Muhamad Zen mengatakan organisasinya tidak datang untuk menyerang PT TIMAH, apalagi menginginkan perusahaan tersebut melemah.
“Almaster tidak bermaksud menyerang, mendiskreditkan, apalagi merugikan PT TIMAH. Aksi ini merupakan bentuk penyampaian aspirasi masyarakat sekaligus pelaksanaan fungsi kontrol sosial terhadap berbagai persoalan yang berkembang di lapangan,” ujarnya.
Menurut Zen, posisi PT TIMAH terlalu penting bagi Bangka Belitung untuk sekadar dipertentangkan dengan masyarakat.
Perusahaan memiliki posisi strategis dalam industri pertambangan timah nasional dan memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah maupun negara.
Karena itu, Almaster justru menginginkan PT TIMAH semakin sehat, produktif dan kuat. Pendapatan perusahaan diharapkan meningkat sehingga kontribusinya terhadap negara dan daerah juga semakin besar.
Tetapi ada satu syarat yang tak boleh ditinggalkan: masyarakat jangan sampai merasa hanya menjadi penonton di tanah sendiri.
Almaster menegaskan mereka bukan kelompok anti-pertambangan. Mereka memahami bahwa timah telah menjadi bagian dari sejarah panjang Bangka Belitung dan masih menjadi sumber ekonomi bagi banyak keluarga.













