Deskripsi Gambar

BeritaLokalPertambangan

Tikar, Sembako, dan Harapan: PT TIMAH Menembus Luka Bencana Nagekeo

×

Tikar, Sembako, dan Harapan: PT TIMAH Menembus Luka Bencana Nagekeo

Sebarkan artikel ini

Tikar, Sembako, dan Harapan: PT TIMAH Menembus Luka Bencana Nagekeo (E: Yosua.Asw)

NAGEKEO, LIPUTANSATU .COM, — Rumah belum tentu menjadi tempat pulang ketika rasa aman belum kembali. Itulah yang masih dirasakan sebagian warga Desa Maropokot dan Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bencana telah lewat, tetapi kehidupan belum sepenuhnya normal. Sebagian warga memang sudah meninggalkan pengungsian, namun mereka belum berani kembali menempati rumah. Tenda-tenda darurat masih menjadi pilihan, sementara posko dan dapur umum tetap menjadi tumpuan untuk bertahan.

Dalam kondisi seperti itu, Tim Emergency Response Group (ERG) PT TIMAH (Persero) Tbk bergerak membawa bantuan kemanusiaan. Sembako diberikan untuk memenuhi kebutuhan dasar, sedangkan tikar disalurkan untuk warga dan pelajar yang masih bertahan di pengungsian serta posko darurat.

Bantuan tersebut juga menjangkau MA Nurusa’adah di Desa Maropokot. Bagi pihak madrasah, bantuan itu bukan sekadar barang yang diserahkan, melainkan kebutuhan nyata yang langsung dirasakan warga.

Kepala MA Nurusa’adah, Ambo Taang, mengatakan masyarakat di Maropokot dan Nangadhero masih berada dalam situasi siaga. Kekhawatiran membuat sebagian warga memilih belum kembali ke rumah meski masa pengungsian mulai berakhir.

“Bantuan yang disalurkan pada hari ini sangat bermanfaat karena ada tikar. Sampai sekarang kami masih beralaskan tanah. Memang ada beberapa donatur lain yang sudah menyerahkan tikar, tetapi jumlahnya masih kurang. Ketika ditambah lagi, kami sangat bersyukur,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana. Tetapi di baliknya ada gambaran tentang bagaimana bencana mengubah hal-hal kecil menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Tikar yang bagi sebagian orang mungkin dianggap sepele, di tempat pengungsian berubah menjadi kebutuhan mendasar. Ia menjadi alas bagi tubuh yang lelah, tempat anak-anak beristirahat, sekaligus bagian kecil dari upaya mengembalikan rasa nyaman yang hilang setelah bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *