Deskripsi Gambar

Belitung TimurBeritaPertambangan

Setelah Demo Reda, MUI Belitung Timur Bicara: Jaga Persaudaraan, Jangan Rusak Negeri Sendiri

×

Setelah Demo Reda, MUI Belitung Timur Bicara: Jaga Persaudaraan, Jangan Rusak Negeri Sendiri

Sebarkan artikel ini

Setelah Demo Reda, MUI Belitung Timur Bicara: Jaga Persaudaraan, Jangan Rusak Negeri Sendiri (E: Yosua.Asw)

BELITUNG TIMUR, LIPUTANSATU .COM, — Jalanan boleh kembali tenang. Suara massa boleh mereda. Namun luka sosial dan pertanyaan yang muncul setelah aksi unjuk rasa pada 7 Agustus lalu tidak bisa diselesaikan hanya dengan menunggu waktu.

Karena itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Belitung Timur memilih menyerukan jalan yang lebih panjang: dialog, introspeksi dan persaudaraan.

MUI meminta seluruh elemen masyarakat menjaga keamanan dan kondusivitas. Pemerintah, aparat, tokoh masyarakat, tokoh agama, wakil rakyat hingga masyarakat umum diharapkan tidak terjebak dalam situasi yang justru memperuncing perbedaan.

Sekretaris Umum MUI Belitung Timur, Try Mario Sandy, mengatakan peristiwa yang telah terjadi harus dilihat sebagai cermin bersama.

“ Kita terus belajar dari segala kondisi yang pernah kita alami. Dengan pelajaran ini tentunya kita akan introspeksi, muhasabah. Kita lihat di mana kekurangan kita masing-masing, di situlah kita harus perbaiki,” ujarnya akhir pekan lalu.

Pasca aksi tersebut, MUI menggelar rapat internal bersama sejumlah tokoh agama. Hasilnya, lima poin imbauan dirumuskan dan disampaikan kepada pemerintah daerah, kepolisian serta pihak terkait.

MUI menempatkan prinsip tawassuth sebagai pijakan, yakni mengambil jalan tengah dan tidak terjebak pada kepentingan satu kelompok semata.

Yang menjadi perhatian pertama adalah masyarakat. MUI mengajak warga di tujuh kecamatan untuk menjaga persatuan, keamanan dan fasilitas publik.

“Yang pertama kami berharap kepada seluruh elemen masyarakat yang ada di Belitung Timur, karena kita ada tujuh kecamatan, untuk menjaga kondusivitas, menjaga persatuan, keamanan dan tolong kita jaga juga fasilitas publik. Karena fasilitas publik ini dibangun tidak bim salabim, tetapi ada prosesnya,” kata Try Mario.

Pesan itu penting. Sebab ketika sebuah fasilitas umum rusak, yang kehilangan bukan pemerintah semata. Yang kehilangan adalah masyarakat sendiri.

Fasilitas publik dibangun dari anggaran, perencanaan dan kerja panjang. Maka, menurut MUI, ketidakpuasan terhadap kebijakan atau persoalan tertentu harus disampaikan dengan cara yang tidak menghancurkan kepentingan bersama.

Belitung Timur, kata Try Mario, juga memiliki modal sosial yang besar: kerukunan.

“Dalam hal ini MUI mengajak kepada seluruh masyarakat, kita sama-samalah. Kita ini terkenal Bangka dan Belitung, terutama Belitung, harmonisasinya luar biasa. Bukan hanya sesama muslim, dengan nonmuslim pun kita sangat harmonis,” ujarnya.

Karena itu, MUI meminta semua pihak menempatkan kemaslahatan masyarakat di atas kepentingan masing-masing.

“Jadi permasalahan ini dikedepankan untuk adalah permasalahan umat. Maslahat, maslahat itu adanya kebaikan. Jadi yang kita kedepankan itu adalah kebaikan untuk masyarakat, kebaikan untuk umat,” jelasnya.

Kepada aparat keamanan, MUI meminta tugas dijalankan secara profesional dan proporsional. Pengendalian diri menjadi penting, terutama ketika situasi di lapangan mudah berkembang menjadi ketegangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *