Kehidupan orang Sekak atau orang Laut pribumi Bangka, berkelompok atau bergerombol di atas perahu antara 4 sampai 10 perahu dipimpin oleh seorang Batin Sekak. Kehidupannya berpindah-pindah dari pulau-pulau kecil ke selat, teluk, tanjung, muara sungai dan beting serta gossong, menyebabkan mereka sangat memahami dan menguasai dengan baik alur pelayaran dan cuaca yang ada di sekitar pesisir pulau Bangka dan pulau Belitung serta pulau-pulau kecil di sekitarnya. Sedikitnya terdapat lima kawasan geografis orang Laut pribumi Bangka yaitu di Kepulauan Lepar, kawasan pulau Semujur, kawasan Teluk Kelabat, kawasan Tanjungpandan dan kawasan Belantu. Pengetahuan orang Laut dalam memahami kondisi dan keadaan lingkungan laut di Kepulauan Bangka Belitung diperoleh berdasarkan pengetahuan dan kearifan lokal sebagai pengembara laut (sea dweller) berabad-abad silam.
Merekalah yang menguasai perairan Kepulauan Bangka Belitung termasuk memberikan nama nama pulau dan selat-selat di kawasan Kepulauan Bangka Belitung seperti selat Lepar, selat Gelasa (Gaspar straits), yang terdiri dari selat Lepar, Selat Lepila (Macclesfield Strait), selat Baur (Stolze Strait) selat Limindo (Clements strait).
Kehebatan orang laut Kepulauan Bangka Belitung sangat diakui. Dalam catatan residen Inggris untuk Palembang dan Bangka M.H. Court, dikatakan bahwa inspeksi terakhirnya di pulau Bangka dimulainya dari sungai Marawang ke Selatan, di sepanjang pantai Timur, dan dari situ putaran ekstrim ke arah Selatan Bangka sampai ke Toobooallie (Toboali) yang merupakan pos paling Selatan, dibantu oleh orang Laut pribumi Bangka Belitung yang disebutnya orang Lepur (Lepar).
Pemetaan mengalami hambatan walaupun M.H. Court saat itu menggunakan kapal perang Inggris yang cukup canggih, karena memasuki musim angin Tenggara yang sangat kencang, sehingga tidak bisa memproyeksikan dari titik Tanjong Brekat (Tanjung Berikat) ke arah Timurnya. Selama Dua hari tanpa ada kemajuan dan atas bantuan Kepala orang Laot (Batin) yang dipekerjakan, kemudian baru sampai di Kuppo (Kepoh) dan dari Tanjong Brekat ke tempat ini seluruh pantai sangat berbatu. Dari muara sungai Kuppo di siang hari keesokan harinya, terlihat sebuah pulau yang disebut Pooloo Booroong (pulau Burung), hampir ke Timur, pada jarak Duabelas mil. Kemudian ada pulau lain, yang disebut Pooloo Tingee (pulau Tinggi), yang merupakan sebuah bukit yang tinggi dengan puncak kerucut tajam, hampir ke Selatan. Perjalanan dari Kuppo ke Toobooallie tidak aman bagi kapal-kapal apapun. Jalur pelayaran sangat rumit dan berbatu, disebut Salat Lepur (selat Lepar), antara pantai Bangka dan beberapa pulau kecil, pulau yang terbesar disebut Pooloo Lepur (pulau Lepar). Orang Laot, yang mendiami pesisir dan pulau-pulau di sekitar sini, disebut orang Lepur. Mereka hidup berpindah, dan saya berharap mereka menjadi patuh dengan memberikan pekerjaan kepada mereka dalam pelayanan kepada pemerintah. Dari Kuppo di pantai Timur, menuju Toobooallie di pantai Barat, dengan jarak Lima jam perjalanan, atau Duabelas mil setengah (Court, 1821:192-194).
Orang Laut yang oleh residen Court disebut sebagai orang Lepar, kemudian dipekerjakan oleh pemerintah Inggris untuk memandu perahu-perahu angkut dengan perahu Sekak dan mereka dibayar setengah dolar per pikul Timah untuk pemanduan dan pengangkutan Timah dari pusat-pusat tambang di darat. Pengangkutan dan pemanduan perahu-perahu bermuatan Timah oleh perahu Sekak, bertujuan untuk menghindari alur pelayaran yang berbahaya dan menghindari serangan bajak laut sebelum Timah diangkut menuju ke kapal-kapal besar milik Inggris.
Pada Tahun 1848-1851, Perau Sekak atau Perahu Gobang juga digunakan oleh orang Laut pribumi Bangka orang Sekak, untuk membantu Depati Amir dalam pertempuran di laut. Perau Sekak yang sederhana beratap kajang dari anyaman daun Nipah, dijadikan sebagai perahu perang dan perahu angkut. Perang yang berkecamuk meluas sampai ke perairan pantai Utara Jawa. Dalam Pertimbangan dan Saran dari Wakil Komandan Admiral Angkatan Laut Hindia Belanda dan Inspektur Marine kepada Gubernur Jenderal di Batavia, tertanggal, Batavia 12 September 1850, Nomor 658/A, (ANRI: BT 17/9/1850 Nomor 1), menanggapi Surat Residen Bangka, Tanggal 3 September 1850 Nomor 4537: ”Ternyata kabar dari penguasa pulau Lepar dan Depati Biliton, bahwa bajak laut (perompak) yang terlihat berulangkali di pantai Jawa adalah orang Laut dari Lepar (pulau Lepar) dan Biliton (pulau Belitung), rupanya betul halnya sama dilaporkan Gezag Hebber (penguasa) Horneveld pada waktu itu ketika berada/bertugas di Borneo Selatan di Kotawaringin, nama penguasa perompak itu Mah/Mak/Ma Sarinah dan Mah/Mak/Ma Cirbu, hal yang sama dilaporkan komandan perahu yang kapalnya dirampok, pada akhir-akhir ini pantai Jawa menjadi berbahaya dan tidak aman.













