BeritaBudayaSejarah

PERAHU SEKAK (GOBANG)

16
×

PERAHU SEKAK (GOBANG)

Sebarkan artikel ini

PERAHU SEKAK (GOBANG)
Dato’ Akhmad Elvian, DPMP,
Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

LIPUTANSATU.COM,—Dalam beberapa foto lama koleksi Museum Kerajaan Belanda atau Tropenmuseum Amsterdam, circa 1900, dengan keterangan: Sekah Prauwen aan de Kwalla Soengeiliat….kira kira maksudnya: Perahu Orang Sekak di Kuala Soengeiliat. Sebutan Kuala berbeda dengan Muara karena Kuala adalah wilayah geografi pertemuan antara beberapa sungai dan anak sungai atau aik dengan lautan, sedangkan muara biasanya hanya merupakan pertemuan satu sungai atau anak sungai (aik) dengan laut.

Dalam gambar koleksi museum kerajaan Belanda tampak beberapa perahu Sekak atau Gobang beratap anyaman daun (pandan laut bahkan sering juga menggunakan daun nipah) lengkap dengan layarnya yang sedang tergulung, juga terbuat dari anyaman daun.

Bentuk atap rumah perahu berbentuk pelana atau gudang sama seperti atap rumah tradisional orang Darat Bangka. Tampaknya kelompok atau Batin Sekak dari perairan Pantai Timur Bangka atau sering disebut dengan Kelompok Semujur sedang melepa perau mereka di daratan Kuala Soengeiliat.

Kelompok Semujur adalah Kelompok atau gerombolan Batin Sekak yang mendiami perairan di sekitar pulau pulau kecil; pulau Semujur, pulau Ketawai. Pulau Panjang, Gusung Asam dan pulau kecil lainnya yang berada di Pesisir Timur pulau Bangka. Disebut Kelompok atau Batin Semujur karena situs upacara adat mereka seperti Muang Pathung yang oleh Orang Cin Bangka disebut Muang Jung (perahu) dan prosesi adat memakamkan orang yang meninggal yaitu Kundhang Nambek, hanya dilakukan di daratan pulau Semujur. Orang Sekak atau sering ditulis Sekah atau Sekakh, adalah Bangkanese atau Bumiputera Bangka yang menguasai bahari dan pelayaran di sekitar perairan Pulau Bangka dan Belitung pada masa masa lampau.

Kondisi letak geografis dan teritorial Kepulauan Bangka dan Belitung yang terdiri dari banyak pulau dan dikelilingi oleh selat dan laut yang strategis dalam alur pelayaran, menyebabkan masyarakat yang mendiami kepulauan Bangka Belitung membangun kebudayaannya atas basis bahari atau laut (sea base culture) dengan orang Laut atau orang Sekak sebagai pendukung utama peradabannya dan juga membangun kebudayaannya berbasis pada daratan (land base culture) dengan orang Darat atau orang Bukit sebagai pendukung utama peradabannya. Orang Kepulauan Bangka Belitung mengenal kata “zaman barik” yang berasal dari kata zaman bahari, menunjukkan, bahwa masyarakat Kepuluan Bangka Belitung zaman dahulu kala sangat memperhatikan bahari atau lautan. Untuk mengeksploitasi hasil lautan dikenal istilah “membajak laut”. Istilah Bajak Laut adalah kelanjutan dari kata membajak laut. Ketika basis kebudayaan masyarakat beralih ke daratan istilah membajak juga digunakan untuk mengeksploitasi tanah (membajak sawah atau ladang). Untuk mengeksploitasi laut, Orang Laut pribumi Bangka, orang Sekak menyebut perahu sekaligus tempat tinggalnya dengan “perau lipat kajang”, dan sering juga disebut dengan “Lepa” atau ada juga yang menyebutnya dengan“gobang”. Bahkan ada satu pulau yang diberi nama “Lepar” berasal dari kata “Lepa” yang berarti Perau atau Perahu lipat kajang dan pulau Lepar sendiri merupakan satu situs tempat gerombolan atau kelompok orang laut pribumi Bangka Belitung orang Sekak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *