Bangka BelitungBelitungBeritaPemerintahan

Menjaga Jejak Leluhur: Maras Taun Belitung, Harmoni Tradisi di Tengah Modernisasi

10
×

Menjaga Jejak Leluhur: Maras Taun Belitung, Harmoni Tradisi di Tengah Modernisasi

Sebarkan artikel ini

Menjaga Jejak Leluhur: Maras Taun Belitung, Harmoni Tradisi di Tengah Modernisasi (E: Theo.Asw)

BELITUNG, LIPUTANSATU.COM, — Tidak semua yang lama harus ditinggalkan. Di Dusun Ulim, Desa Lassar, Kecamatan Membalong, masyarakat justru memilih merawatnya. Di tengah modernisasi yang tak terelakkan, tradisi Maras Taun tetap berdiri kokoh—menjadi penanda identitas sekaligus sumber makna kehidupan.

Maras Taun adalah ritual syukur atas panen padi, namun lebih dari itu, ia adalah perwujudan hubungan yang utuh antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Tradisi ini memadukan adat, religi, seni, dan nilai gotong royong yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Perayaan tahun ini, yang digelar pada Minggu (5/4/2026), berlangsung khidmat di kediaman Ketua FKAB, Mukti Maharip. Ratusan warga hadir dalam balutan busana adat Melayu Belitung, menghadirkan suasana yang tidak hanya sakral, tetapi juga penuh kehangatan.

Kehadiran Gubernur Bangka Belitung, Hidayat Arsani, bersama sejumlah kepala daerah, menjadi simbol dukungan nyata terhadap pelestarian budaya lokal.

Pantun Berebut Lawang: Tradisi Lisan yang Menghidupkan Nilai

Prosesi dimulai dengan pantun berebut lawang—tradisi berbalas pantun yang membuka rangkaian acara. Setiap bait yang dilantunkan bukan sekadar kata, melainkan simbol penghormatan dan kearifan lokal.

Warisan yang dahulu menjadi bagian dari adat pernikahan ini kini hadir dalam Maras Taun, menunjukkan bagaimana tradisi mampu beradaptasi tanpa kehilangan esensinya.

Tumbuk Lesung: Simfoni Kebersamaan

Ritual tumbuk lesung menjadi puncak yang sarat makna. Dengan irama yang serempak, warga menumbuk padi sebagai simbol syukur dan kebersamaan.

Di balik gerakan itu, tersimpan filosofi mendalam: bahwa kehidupan tidak bisa dijalani sendiri. Gotong royong menjadi nafas yang menjaga harmoni masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *