Deskripsi Gambar

BangkaBeritaPemerintahanPolitik

Imam Wahyudi, S.IP., M.H. Kawal Aspirasi Warga Tanah Bawah, Jalan 550 Meter Akhirnya Diaspal

×

Imam Wahyudi, S.IP., M.H. Kawal Aspirasi Warga Tanah Bawah, Jalan 550 Meter Akhirnya Diaspal

Sebarkan artikel ini

Menariknya, sehari sebelum pengaspalan berlangsung, komunikasi antara pihak pelaksana dan pemerintah desa sudah dilakukan.

Melalui pesan WhatsApp kepada Ustadz Kisman, Kepala Dusun Tanah Bawah, pihak Dinas PUPRPRKP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyampaikan bahwa pengaspalan akan dilaksanakan keesokan harinya.

Warga pun diminta mengurangi aktivitas kendaraan selama proses pekerjaan berlangsung, terutama kendaraan pengangkut sawit.

“Besok ada pelaksanaan pengaspalan di Desa Tanah Bawah. Untuk itu dimohon kiranya dapat diinformasikan kepada warga setempat untuk mengurangi aktivitas kendaraan, terutama pengangkut sawit selama pekerjaan pengaspalan berlangsung,” tulis pihak PUPR.

Pesannya sederhana, tetapi penting: jangan buru-buru menggunakan jalan yang baru diaspal.

“Pekerjaan aspal cukup panas dan membutuhkan perkerasan. Kami mohon bantuannya untuk dapat dimaklumi,” lanjut pesan tersebut.

PUPR juga memberikan batasan terkait kendaraan yang diperbolehkan melintas. Karena ruas tersebut merupakan jalan lingkungan permukiman, beban kendaraan yang dapat melewati jalan itu saat ini berada pada kisaran 3–4 ton.

“Mohon kiranya bapak dapat menyampaikan kepada masyarakat yang menggunakan jalan ini agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya sesuai dengan beban yang dikerjakan. Dengan demikian, perawatan aspal dapat terjaga kualitasnya dan tidak mudah rusak,” pesan tersebut menegaskan.

Pesan itu seakan menjadi babak kedua setelah aspirasi warga berhasil diwujudkan.

Sebab membangun jalan hanyalah satu bagian dari pekerjaan. Menjaganya adalah bagian berikutnya.

Bagi warga Tanah Bawah, jalan sepanjang 550 meter yang kini menghitam bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah jalur menuju kebun, menuju Sungai Upak, sekaligus bukti bahwa suara masyarakat masih bisa menemukan jalan menuju meja kebijakan.

Reses akhirnya tidak berhenti sebagai percakapan.

Aspirasi tidak berhenti sebagai catatan.

Dan sebuah jalan yang dulu dinantikan, kini mulai membentang di hadapan warga.

Dari suara di tengah masyarakat, menjadi aspal di tengah permukiman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *