Dalam situasi tersebut, perhatian PT TIMAH menjadi penyemangat tersendiri bagi keluarga. Bantuan yang diberikan perusahaan dinilai sangat membantu memenuhi berbagai kebutuhan selama Bhita menjalani kompetisi di Jakarta.
Khotijah menjelaskan, dukungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan perjalanan dan pendampingan, tetapi juga membantu keluarga dalam mempersiapkan berbagai hal untuk mendukung putrinya.
Bahkan, keluarga memiliki cara tersendiri untuk membawa nama Bangka Belitung ke lingkungan kompetisi. Mereka menyiapkan buah tangan berupa kuliner khas daerah yang akan diperkenalkan kepada para juri dan tim D’Academy.
“Pastinya senang banget karena bantuan ini sangat berarti buat kami. Selama Bhita mengikuti kompetisi, banyak kebutuhan yang harus dipersiapkan. Bukan hanya untuk perjalanan, tetapi juga kebutuhan selama di Jakarta, termasuk oleh-oleh khas Bangka Belitung yang kami siapkan untuk memperkenalkan makanan daerah kepada para juri dan tim di sana. Jadi apa yang diberikan PT TIMAH sekarang ini sangat berharga dan sangat membantu kami. Terima kasih banyak kepada PT TIMAH yang sudah memberikan perhatian dan dukungan untuk Bhita,” tuturnya.
Bagi Bhita sendiri, keberhasilan menembus panggung televisi nasional merupakan pengalaman yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sejak menjalani karantina pada Juni, banyak hal baru yang ia temukan, mulai dari pengalaman bermusik hingga persahabatan dengan peserta dari berbagai penjuru Indonesia.
Saat diwawancarai melalui panggilan video, Senin (2/11/2026), Bhita mengungkapkan kebahagiaannya karena mampu bertahan hingga babak Top 11.
“Perasaan Bhita senang dan bangga karena bisa sampai sejauh ini. Bhita juga tidak menyangka bisa sampai di tahap ini. Selama di asrama semuanya berkesan, bisa bertemu teman-teman dari seluruh Indonesia, berkumpul bersama, dan mengikuti berbagai kegiatan. Banyak pengalaman dan ilmu baru yang Bhita dapatkan selama di sini,” ungkapnya.
Meski mendapatkan banyak pengalaman berharga, ada satu hal yang paling dirindukan Bhita selama menjalani karantina, yakni kebersamaan dengan keluarga, terutama sang ibu.
Komunikasi yang biasanya dilakukan secara langsung kini harus digantikan melalui sambungan telepon. Kerinduan itu semakin terasa ketika ia membayangkan sang ibu bisa hadir langsung di studio untuk menyaksikan perjuangannya.
“Kalau perasaan kangen itu pasti ada, apalagi sama mama. Biasanya kan bisa ketemu langsung, cerita secara langsung. Bhita juga pengen banget mama bisa datang dan nonton langsung di studio,” katanya.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, Bhita tetap berusaha menjaga semangat dan fokus memberikan penampilan terbaik. Ia menyadari bahwa perjalanan menuju keberhasilan masih panjang dan membutuhkan dukungan serta doa banyak pihak.
“Perasaan Bhita senang dan bersyukur banget karena alhamdulillah banyak yang ikut mendukung perjuangan Bhita. Semoga Bhita juga bisa memberikan hasil yang terbaik untuk Bangka Belitung. Pokoknya doakan Bhita supaya penampilannya lancar dan semuanya dimudahkan,” ucapnya.
Dukungan PT TIMAH, doa keluarga, dan semangat masyarakat menjadi energi tambahan bagi Bhita untuk terus melangkah. Perjuangannya juga membawa pesan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Dari seorang anak yang mulai bernyanyi sejak bangku sekolah dasar, kini Bhita berdiri di panggung nasional membawa identitas daerahnya. Empat kali mencoba bukan alasan menyerah, melainkan bukti bahwa mimpi membutuhkan kesabaran, keberanian, dan kesempatan.
Kini, bukan hanya Bhita yang sedang berjuang. Ada nama Bangka Belitung yang ikut ia bawa dalam setiap penampilannya.













