Sementara Shidqi Farm bergerak dari sektor peternakan bebek. Hasil ternak kemudian diolah menjadi telur asin yang dipasarkan kepada masyarakat.
Respon konsumen pun menjadi penyemangat. Debby, salah seorang pelanggan, mengatakan produk Emo memiliki rasa yang sesuai dengan seleranya.
“Keripik pisangnya enak, telur asinnya juga enak. Harganya terjangkau. Kami puas,” ujarnya.
Di tengah persaingan usaha yang semakin keras, Emo tidak ingin sekadar mengejar keuntungan pribadi.
Kini beberapa karyawan sudah ikut bekerja bersamanya. Jumlahnya memang belum banyak, tetapi bagi Emo, satu lapangan pekerjaan tetap memiliki arti.
Sebab, sebuah usaha menurutnya bukan hanya tentang berapa rupiah yang masuk ke kantong pemiliknya. Lebih jauh dari itu, usaha harus mampu membuka pintu rezeki bagi orang lain.
“Saya ingin hidup bermanfaat untuk orang lain. Ke depan, saya ingin usaha ini semakin besar sehingga bisa menampung lebih banyak pekerja,” ungkapnya.
Langkah Emo masih panjang. Pasar online harus diperkuat, jaringan offline perlu diperluas, produksi harus ditingkatkan dan kualitas tidak boleh dikorbankan.
Tetapi ia sudah melewati satu tahapan penting: berani memulai.
Dan di balik keberanian itu, ada nama seorang guru yang selalu ia ingat.
Emo menutup perbincangan dengan mata berkaca-kaca. Bukan karena perjalanan usahanya telah selesai, tetapi karena ia sadar, tidak semua orang yang hadir dalam hidup hanya meninggalkan kenangan. Ada yang meninggalkan ilmu, keberanian dan arah.
“Terima kasih Allah. Terima kasih Gurunda Imam Wahyudi. Terima kasih pelanggan saya dan terima kasih atas doa semua sahabat.”
Dari seorang anak muda yang belajar dari dunia warkop, Emo kini mulai membangun dunianya sendiri.
Keripik Shaka dan Shidqi Farm mungkin belum menjadi usaha besar. Tetapi dari sana, sebuah mimpi sedang tumbuh: mandiri, bermanfaat dan suatu hari mampu membuka lebih banyak pintu pekerjaan bagi orang lain.













