Dari Ruang Dinas ke Hati Warga, Ketika Prof Udin Menjadi Milik Semua (P/E: Yoshua.Asw)
PANGKALPINANG, LIPUTANSATU.COM, — Tidak semua pemimpin memilih duduk sejajar dengan warganya. Namun Prof Saparudin justru melakukan sebaliknya. Di rumah dinas Wali Kota Pangkalpinang, Selasa (24/3/2026), ia membuka pintu—dan lebih dari itu, membuka diri.
Suasana Lebaran 1447 H menjadi latar yang hangat. Silaturahmi yang digagas Imam Wahyudi bersama rekan-rekannya dari berbagai profesi berubah menjadi pertemuan yang cair. Tidak ada protokol yang membatasi percakapan. Semua mengalir, apa adanya.
“Prof Udin itu orangnya sangat welcome. Kami merasa benar-benar diterima,” ungkap Imam.
Bagi sebagian warga, ini bukan hal baru. Nama Prof Udin mulai dikenal sebagai sosok pemimpin yang gemar berdiskusi, mendengar, dan tidak alergi terhadap kritik.
Ia sendiri mengakui, mendengar adalah bagian dari kepemimpinan.
“Kalau pemerintah tidak mau mendengar, kebijakan bisa pincang. Karena itu saya memilih banyak mendengar dan berkisah dengan warga,” tuturnya.
Ucapan itu seperti menjelaskan mengapa suasana malam itu terasa berbeda. Tidak ada jarak antara pemimpin dan yang dipimpin.






