Menurutnya, kehilangan orang yang dicintai, kegagalan dalam mencapai cita-cita, hingga ditinggalkan seseorang merupakan bagian dari pengalaman hidup yang dapat menguji keimanan.
“Bisa enggak kita juga menerima takdir buruk, kehilangan, walaupun enggak bahagia, sedih, tetap sedih, cuma kita terima kehilangan ini. Tetap sedih, tapi kita terima wafat atau kematian. Tetap sedih, tapi kita terima ditinggalkan. Ini namanya iman kepada takdir buruk,” tutur Ustaz Hanan.
Ia juga meluruskan pemahaman bahwa menerima takdir bukan berarti seseorang harus menghilangkan kesedihan atau selalu terlihat kuat di hadapan orang lain.
Manusia tetap boleh menangis ketika kehilangan, kecewa ketika gagal, dan bersedih ketika menghadapi kenyataan yang tidak diharapkan. Namun, perasaan tersebut tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan keyakinan terhadap ketetapan Allah.
Ustaz Hanan menggambarkan bahwa keberhasilan dapat diterima dengan kebahagiaan, sementara kegagalan mungkin harus diterima dengan air mata. Demikian pula anugerah yang menghadirkan senyuman dan luka yang terkadang meninggalkan kesedihan mendalam.
Semua itu merupakan bagian dari perjalanan kehidupan yang membutuhkan keikhlasan dan penerimaan.
“Ini arti iman kepada takdir. Menerima takdir itu baik atau buruk. Acceptance,” pungkasnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu inti kajian yang diikuti Noni dengan khidmat bersama ribuan jamaah lainnya.
Kajian ini sekaligus menghadirkan pengingat bahwa kekuatan iman tidak semata-mata terlihat ketika manusia berada dalam keadaan lapang dan bahagia. Justru ketika menghadapi ujian, kehilangan, dan kegagalan, keteguhan hati untuk tetap percaya kepada Allah menjadi bagian penting dari keimanan.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan semakin banyak masyarakat Bangka Belitung mendapatkan ruang untuk memperdalam ilmu agama, memperkuat ketakwaan, serta membangun kehidupan yang lebih baik dengan menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai pedoman.













