Menurutnya, pengamanan harus bergerak dari pola menjaga setelah muncul ancaman menjadi kemampuan mengelola risiko sebelum gangguan terjadi.
“Bimtek sistem manajemen pengamanan bukan sekadar bagaimana PT TIMAH menjaga aset setelah muncul ancaman, tetapi bagaimana perusahaan mengenali risiko lebih awal, mencegah gangguan sebelum terjadi, merespons secara cepat ketika terjadi insiden, serta menjadikan keamanan sebagai budaya seluruh organisasi,” tegas Murry.
Ia menyebut manajemen risiko harus diterapkan oleh seluruh organisasi. Pemetaan potensi kerawanan juga perlu mencakup wilayah IUP dan dinamika sosial masyarakat di sekitar kegiatan perusahaan.
Dalam pembinaan tersebut, sejumlah sasaran menjadi perhatian, mulai dari perubahan paradigma pengamanan, penyamaan persepsi seluruh lini, hingga kesiapan menghadapi audit Sistem Manajemen Pengamanan yang mencakup komitmen dan kebijakan.
Perlindungan terhadap empat aset utama juga menjadi perhatian, yakni people, aset, information dan operation.
Di luar internal perusahaan, Murry menilai pengamanan membutuhkan kolaborasi yang lebih luas dengan Polri, TNI, Bakamla, pemerintah daerah dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mendukung keberlanjutan bisnis sekaligus menjaga kepentingan publik yang berkaitan dengan keberadaan operasional perusahaan.
Ketua Tim Bimtek dan Persamaan Persepsi tentang Sistem Manajemen Pengamanan Berdasarkan Perpol Nomor 7 Tahun 2019, Kombes Pol Norul Hidayat, menyatakan kepolisian siap mendukung PT TIMAH dalam membangun sistem pengamanan yang dapat diterapkan secara mandiri.
“Penguatan SMP penting dilakukan seiring dengan perkembangan potensi ancaman terhadap kegiatan operasional perusahaan. Karena itu, pendekatan pengamanan perlu bergeser dari sekadar menjaga menjadi mengelola risiko keamanan secara menyeluruh,” ujarnya.
Penguatan sistem ini sekaligus mempererat kerja sama PT TIMAH dengan Polda Babel yang sebelumnya telah dituangkan melalui PKS tentang bantuan pengamanan, penertiban aset dan penegakan hukum untuk mendukung operasional perusahaan.
Pada akhirnya, pengamanan Obvitnas tidak hanya berbicara tentang pagar, personel atau prosedur ketika insiden terjadi. Tantangan yang lebih besar adalah membangun kemampuan seluruh organisasi untuk mengenali risiko, mencegah gangguan dan bertindak cepat ketika ancaman muncul.
Di titik itulah SMP ditempatkan PT TIMAH: bukan sekadar sistem untuk menjaga, melainkan bagian dari budaya perusahaan untuk memastikan operasi tetap berjalan aman dan berkelanjutan.












