Deskripsi Gambar

BeritaNasionalPolri

Tiga Jenderal Terseret Skandal Penyadapan Prabowo, Ini Rekam Jejak Listyo Sigit dan Dua Perwira Tinggi Polri

×

Tiga Jenderal Terseret Skandal Penyadapan Prabowo, Ini Rekam Jejak Listyo Sigit dan Dua Perwira Tinggi Polri

Sebarkan artikel ini

Tiga Jenderal Terseret Skandal Penyadapan Prabowo, Ini Rekam Jejak Listyo Sigit dan Dua Perwira Tinggi Polri (E: Yosua.Asw)

JAKARTA, LIPUTANSATU.COM, – Kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto mengguncang institusi Polri. Tiga jenderal polisi, termasuk mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri.

Dua perwira tinggi lainnya yang turut terseret dalam perkara tersebut adalah Irjen Ahrie Sonta Nasution dan Irjen Eko Hadi Santoso.

Penetapan tersangka diumumkan langsung oleh Kabareskrim Polri Komjen Asep Safrudin dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Ketiganya diduga terlibat dalam praktik penyadapan tanpa prosedur terhadap sejumlah nomor telepon sejak 2025 hingga Oktober 2026. Sasaran penyadapan tidak hanya Presiden Prabowo, tetapi juga pejabat negara, tokoh politik, kalangan media, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), hingga pengusaha.

“Penyidik telah menetapkan terhadap tiga orang tersangka dengan inisial LSP, ASN, dan EH,” ujar Asep dalam konferensi pers.

Perkara ini juga berkaitan dengan dugaan penghapusan data elektronik dan akses ilegal. Penyidik telah memeriksa 10 saksi dan tiga saksi ahli, serta menyita 11 unit telepon seluler, satu iPad, dan empat flashdisk.

Di balik kasus yang menyita perhatian publik tersebut, ketiga tersangka memiliki perjalanan karier panjang dengan sejumlah jabatan strategis di lingkungan kepolisian.

Listyo Sigit Prabowo: Dari Kapolri hingga Terseret Kasus Penyadapan

Listyo Sigit Prabowo lahir di Ambon, Maluku, 5 Mei 1969. Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 ini mengawali perjalanan kariernya dengan menduduki sejumlah jabatan kewilayahan dan strategis.

Ia pernah menjabat Kapolres Pati pada 2009, Wakapolrestabes Semarang pada 2010, Kapolresta Surakarta pada 2011, hingga Kapolda Banten pada 2016.

Kariernya semakin menanjak ketika dipercaya menjadi Kadiv Propam Polri pada 2018 dan Kabareskrim Polri pada 2019. Puncaknya, Sigit dilantik menjadi Kapolri pada 2021.

Sebelum menduduki jabatan Kapolri, Sigit juga pernah menjadi ajudan Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada 2014–2016.

Sejumlah perkara besar pernah ditanganinya, di antaranya kasus bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Kepunton, Solo, saat menjabat Kapolresta Surakarta. Ketika menjadi Kabareskrim, ia juga terlibat dalam penangkapan buronan kasus Bank Bali, Djoko Tjandra, setelah 11 tahun melarikan diri.

Setelah menjabat Kapolri selama lebih dari lima tahun, Sigit digantikan Jenderal Suyudi Ario Seto pada 1 Oktober 2026. Pada hari yang sama, ia dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala Kantor Staf Presiden (KSP).

Sigit juga pernah menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Adipurna yang disematkan langsung oleh Presiden Prabowo.

Ahrie Sonta: Perwira yang Pernah Mendampingi Sigit dalam Uji Kelayakan Kapolri

Irjen Ahrie Sonta Nasution lahir di Bandung pada 1981 dan merupakan lulusan Akpol 2002.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *