Bangka BaratBeritaPertambangan

Ketika Museum Timah Mentok Menjadi Panggung Seni dan Penggerak Ekonomi Warga

×

Ketika Museum Timah Mentok Menjadi Panggung Seni dan Penggerak Ekonomi Warga

Sebarkan artikel ini

Kolaborasi dengan PT TIMAH juga telah berlangsung dalam setiap penyelenggaraan festival. Selain Museum Timah Indonesia Mentok, Yayasan Seruni Production pernah memanfaatkan Gedung Majapahit PT TIMAH sebagai lokasi kegiatan.

“Selama kami menggelar tiga kali Seruni Art Festival, memang kami bekerja sama dengan PT TIMAH. Setiap Yayasan Seruni menggelar kegiatan festival seni, kami menggunakan sarana dan prasarana PT Timah,” jelas Anisa.

Pada festival ketiga ini, Sanggar Seni Seruni Production dari Bangka Barat tampil bersama Sanggar Seni Marga Gemilang Grismantara dari Belitung. Pertunjukan mereka mendapat apresiasi dari Bupati Bangka Barat Markus, jajaran Forkopimda dan masyarakat yang hadir.

Bagi Anisa, dukungan tersebut memiliki arti penting karena di balik panggung pertunjukan terdapat anak-anak yang sedang belajar membangun keberanian, bakat dan kecintaan terhadap seni.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada PT TIMAH atas dukungannya. Harapannya ke depan dukungannya bisa lebih ditingkatkan lagi, khususnya perhatian kepada anak didik kami. Saat ini yayasan kami mendidik sebanyak 117 siswa,” katanya.

Bupati Bangka Barat Markus turut memberikan apresiasi. Ia melihat festival seni seperti ini memiliki manfaat yang lebih luas karena mampu mempertemukan kebudayaan, masyarakat dan aktivitas ekonomi dalam satu ruang.

“Festival ini menarik untuk masyarakat. Antusias penonton dan pelaku UMKM juga terlihat. Saya lihat tadi banyak sekali yang berjualan, jarang terjadi seperti ini. Ini sebagai daya ungkit pariwisata kita,” katanya.

Menurut Markus, kehadiran tari, musik, teater dan UMKM dalam satu kegiatan dapat menjadi bagian dari upaya menghidupkan ruang publik sekaligus memperkuat pariwisata berbasis budaya di Bangka Barat.

Dampak festival itu bahkan dirasakan langsung oleh pelaku UMKM. Rina Erzaliana, pelaku UMKM lokal binaan PT TIMAH, mengaku aktivitas perdagangan meningkat selama kegiatan berlangsung.

“Alhamdulillah dengan adanya kegiatan seperti ini, omzet dagangan kami meningkat. Mudah-mudahan ke depan lebih banyak lagi kegiatan seperti ini diselenggarakan. Terima kasih kepada panitia,” ujarnya.

Pada akhirnya, Seruni Art Festival III tidak hanya meninggalkan tepuk tangan dari panggung pertunjukan. Ia meninggalkan pesan bahwa ketika sejarah diberi ruang untuk bertemu dengan kreativitas generasi muda, sebuah museum bisa berubah menjadi ruang kehidupan—tempat budaya dirawat, bakat tumbuh, dan ekonomi masyarakat ikut bergerak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *