Tradisi itu justru menemukan maknanya ketika kondisi ekonomi membuat sebagian warga harus semakin berhati-hati mengatur kebutuhan rumah tangga. Dalam situasi seperti itu, sekantong beras bukan sekadar bahan pangan. Ia bisa berarti dapur yang tetap mengepul dan kebutuhan sehari-hari yang sedikit lebih ringan.
“Dari tahun ke tahun kami melaksanakan kegiatan sosial ini. Sekarang kondisi ekonomi cukup sulit, sehingga masyarakat yang mendapatkan bantuan tentu merasa terbantu,” katanya.
Bagi Rina, Sembahyang Rebut bukan semata tentang menjalankan tradisi keagamaan. Ada nilai syukur yang harus diterjemahkan dalam tindakan nyata.
Doa dipanjatkan, rasa syukur diungkapkan, lalu kepedulian diberikan kepada sesama. Di titik itulah sebuah tradisi menemukan wajah kemanusiaannya.
“Rangkaian Sembahyang Rebut ini merupakan kegiatan ucapan syukur. Di dalamnya juga ada momentum untuk berbagi bersama masyarakat,” jelasnya.
Dukungan PT TIMAH pun disebut telah terjalin sejak tahun sebelumnya. Bantuan perusahaan dinilai ikut memperkuat kegiatan sosial yang secara konsisten dijalankan yayasan.
Bagi yayasan, sinergi tersebut bukan sekadar dukungan terhadap sebuah kegiatan tahunan. Lebih jauh, ia menjadi bagian dari upaya menjaga agar nilai berbagi tetap hidup di tengah masyarakat.
“Kami sangat berterima kasih atas bantuan dari PT TIMAH. Bantuan yang diberikan sudah kami salurkan seluruhnya kepada masyarakat. Tahun lalu PT TIMAH juga ikut membantu, sehingga kami sangat berterima kasih atas sinergi yang sudah terjalin,” tutupnya.
Pada akhirnya, Sembahyang Rebut di Kelapa Kampit meninggalkan pesan sederhana: syukur yang paling bermakna bukan hanya ketika diucapkan dalam doa, tetapi ketika diwujudkan menjadi kepedulian yang bisa dirasakan orang lain.













