Menurut Riza, capaian omzet UMKM menjadi salah satu gambaran adanya dampak ekonomi dari kegiatan tersebut. Karena itu, ia berharap manfaat festival dapat berlanjut setelah panggung utama ditutup.
“Saya berharap dampak dari event ini tidak berhenti ketika acara selesai malam ini,” katanya.
Ia mengajak wisatawan yang datang ke Bangka Selatan tidak sekadar menghadiri kegiatan, tetapi juga mengunjungi destinasi wisata, menikmati kuliner lokal, membeli produk UMKM, menggunakan jasa masyarakat serta memanfaatkan akomodasi yang tersedia.
Pesan yang sama disampaikan kepada pelaku UMKM dan ekonomi kreatif. Riza meminta pelaku usaha terus berinovasi dan memanfaatkan berbagai momentum untuk memperkenalkan produk mereka kepada pasar yang lebih luas.
“Kepada seluruh pelaku UMKM dan ekonomi kreatif, teruslah berinovasi, jangan takut untuk tampil, jangan takut untuk mencoba hal baru, dan manfaatkan setiap event sebagai kesempatan untuk memperkenalkan produk serta karya kita,” tegasnya.
Malam penutupan turut dihadiri jajaran kepala badan, kepala dinas dan kepala kantor di lingkungan Pemkab Bangka Selatan. Sejumlah organisasi wanita daerah seperti Ikatan Adhyaksa Dharmakarini, Bhayangkari, Persit, TP PKK, Dekranasda dan DWP juga hadir.
Pimpinan organisasi pers PWI, IJTI dan PJS Bangka Selatan, panitia, sponsor serta peserta festival turut menyaksikan malam penutupan tersebut.
Kini panggung Kemilau Pesona Bangka Selatan 2026 telah ditutup. Tetapi aktivitas ekonomi yang tercipta selama empat hari menjadi bagian dari cerita yang lebih panjang.
Omzet Rp1,3 miliar menjadi catatan penting bahwa di balik sebuah festival, ada pelaku usaha yang mencari pelanggan, ada produk lokal yang menemukan pasar dan ada masyarakat yang ikut merasakan perputaran ekonomi.
Bagi Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, momentum tersebut menjadi pijakan untuk terus memadukan pariwisata, budaya dan UMKM dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan di Negeri Beribu Pesona.












