Di tengah kemajuan teknologi yang semakin cepat, Rudianto mengingatkan mahasiswa agar tidak berhenti sebagai pengguna.
Teknologi harus menjadi alat untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.
Mahasiswa pertanian dapat menciptakan inovasi yang membantu meningkatkan produktivitas petani. Mahasiswa teknik dapat melahirkan teknologi yang membuat pekerjaan lebih efektif. Sementara mahasiswa IT dapat menciptakan aplikasi atau sistem yang mempermudah kehidupan masyarakat.
“Karya besar inilah yang harus kita buktikan. Baik sebagai mahasiswa pertanian, mahasiswa teknik atau mahasiswa IT. Intinya, hasil IT yang kita temukan tentunya bermanfaat banyak untuk mempermudah kerja dan membantu masyarakat,” ujarnya.
Menurut Rudianto, ketika ilmu pengetahuan berubah menjadi karya dan karya memberikan manfaat kepada masyarakat, di situlah mahasiswa benar-benar mengambil bagian dalam mengisi kemerdekaan.
Sebab, kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga tentang kemampuan sebuah bangsa untuk berdiri dengan pengetahuan, keterampilan dan inovasinya sendiri.
Pengalaman Menjadi Bekal Generasi Muda
Imam Wahyudi menilai kuliah umum semacam ini penting untuk terus dilakukan.
Menurutnya, mahasiswa membutuhkan ruang untuk bertemu dengan tokoh dan praktisi yang telah mengalami langsung berbagai dinamika kehidupan, baik dalam dunia politik, pemerintahan maupun masyarakat.
“Dari pemateri yang telah sukses secara teori dan aplikasi, kita akan mendapatkan pelajaran. Pengalaman itulah kemudian menjadi bekal dan motivasi mahasiswa semua,” ujarnya.
Imam juga menegaskan bahwa mahasiswa merupakan cikal bakal masa depan Bangka Belitung.
Karena itu, mahasiswa tidak boleh hanya mengejar gelar. Mereka harus mempersiapkan diri untuk menjadi generasi yang mampu menjawab persoalan daerah dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki.
Mengisi Kemerdekaan dengan Prestasi
Kuliah umum tersebut akhirnya membawa mahasiswa pada satu kesadaran: mencintai tanah air tidak selalu harus melalui tindakan besar yang terlihat.
Kadang, cinta tanah air dimulai dari hal sederhana—belajar dengan sungguh-sungguh, disiplin, menghasilkan karya, menciptakan inovasi dan menggunakan teknologi untuk membantu orang lain.
Jika dulu para pejuang mengangkat bambu runcing untuk merebut kemerdekaan, maka generasi hari ini harus mengangkat ilmu pengetahuan sebagai senjata, teknologi sebagai alat perjuangan dan prestasi sebagai bukti pengabdian.
Dari ruang-ruang kampus seperti Polman Babel inilah, masa depan Bangka Belitung sedang disiapkan.
Dan sekitar 300 mahasiswa yang hadir hari itu bukan sekadar peserta kuliah umum. Mereka adalah bagian dari generasi yang akan menentukan apakah kemajuan teknologi kelak hanya menjadi tontonan, atau berubah menjadi kekuatan untuk membangun daerah dan bangsa.













