“Alhamdulillah, bisa mengkhitankan anak dan memenuhi permintaannya. Sebelumnya belum bisa karena belum ada biaya untuk sunat. Khitanan gratis ini sangat membantu ekonomi kami yang hanya bekerja di laundry,” ungkap Desi.
Bagi Desi, kegiatan seperti ini membuktikan bahwa program sosial akan terasa nilainya ketika benar-benar menyentuh persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia berharap kegiatan serupa terus hadir.
“Harapannya program ini bisa terus dijalankan karena sangat bermanfaat untuk masyarakat kurang mampu seperti kami. Terima kasih banyak PT TIMAH, semoga mendapat berkah dari Allah,” katanya.
Di Kabupaten Bangka Tengah, cerita kebahagiaan juga datang dari keluarga Wana. Ia membawa putranya, Haikal, untuk mengikuti khitanan massal.
Bukan hanya karena tidak dipungut biaya, Wana semakin lega setelah mengetahui Haikal dapat menjalani proses tersebut dengan baik. Bahkan sang anak disebut tidak merasakan sakit.
“Luar biasa senang adanya kegiatan ini. Gratis semua prosesnya dan adik juga ikut senang karena enggak merasa sakit,” ujar Wana.
Rangkaian cerita itu menunjukkan satu hal: bantuan sosial tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang besar dan megah.
Kadang, maknanya justru sederhana—seorang ibu yang akhirnya mampu mengkhitankan anaknya, seorang anak yang pulang dengan senyum, atau sebuah keluarga yang tidak lagi harus memilih antara kebutuhan sehari-hari dan biaya kesehatan.
Sebanyak 564 anak menjadi bagian dari Bulan Bakti HUT ke-50 PT TIMAH. Namun yang dibawa pulang bukan hanya layanan kesehatan gratis.
Ada rasa lega bagi orang tua. Ada kebahagiaan bagi anak-anak. Dan ada harapan agar kepedulian semacam ini terus tumbuh.
Karena ketika sebuah perusahaan hadir bukan hanya di atas kertas, tetapi menyentuh langsung kehidupan masyarakat, ulang tahun tidak lagi sekadar tentang bertambahnya usia.
Ia menjadi momentum untuk mengingat kembali kepada siapa perusahaan itu tumbuh dan untuk siapa manfaatnya harus kembali diberikan: untuk rakyat.













