Lampu Merah, Hati yang Bergerak: Mahasiswa Pertiba Ketuk Kepedulian untuk NTT dan Kalimantan (E: Yosua.Asw)
PANGKALPINANG, LIPUTANSATU .COM, — Lampu merah menghentikan kendaraan. Tetapi sore itu, di salah satu persimpangan Kota Pangkalpinang, berhentinya kendaraan justru menjadi awal dari sebuah gerakan.
Di antara deretan kendaraan dan hiruk-pikuk jalan raya, mahasiswa Universitas Pertiba berdiri membawa kotak donasi.
Mereka bukan sedang menawarkan barang.
Mereka sedang menawarkan sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit: kesempatan untuk peduli.
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Pertiba yang diketuai Iqbal Abdillah bersama Keluarga Besar Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) Universitas Pertiba menggelar aksi kemanusiaan “Gerak Bersama Peduli NTT & Kalimantan” sebagai bentuk solidaritas kepada masyarakat yang terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan.
Para mahasiswa turun langsung ke jalan untuk mengajak masyarakat ikut membantu.
Satu per satu pengguna jalan disapa.
Ada yang langsung membuka dompet. Ada yang memberikan uang seadanya. Ada pula yang hanya bisa memberikan doa dan dukungan.
Namun bagi mahasiswa, semua itu tetap memiliki arti.
“Tidak harus banyak. Yang penting ikhlas dan kita sama-sama bergerak,” kata seorang mahasiswa saat mengajak pengguna jalan berdonasi.
Seorang pengendara yang berhenti kemudian menyerahkan donasi.
“Saya mungkin tidak bisa membantu banyak. Tapi kalau semua orang berpikir begitu, bantuan akan menjadi besar,” ujarnya. Selasa (25/8).
Kalimat itu seolah menggambarkan alasan mengapa aksi tersebut digelar.
Sebab bencana tidak hanya meninggalkan rumah yang rusak atau lingkungan yang porak-poranda. Di baliknya ada keluarga yang kehilangan rasa aman, kehilangan tempat tinggal, kehilangan penghasilan, bahkan kehilangan orang-orang yang mereka cintai.
Dan di saat seperti itu, solidaritas menjadi salah satu kekuatan yang masih bisa diberikan.
Ketua BEM Universitas Pertiba mengatakan, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk tidak hanya menjadi penonton ketika persoalan kemanusiaan terjadi.
“Kami tidak ingin mahasiswa hanya sibuk dengan urusan kampus. Ketika masyarakat sedang membutuhkan bantuan, mahasiswa harus punya keberanian untuk turun dan mengambil bagian,” ujarnya.
Ia menegaskan, aksi tersebut bukan semata-mata tentang mengumpulkan uang.
“Yang ingin kami bangun adalah kesadaran. Bahwa penderitaan saudara kita di NTT dan Kalimantan juga merupakan persoalan kita. Kita mungkin berbeda daerah, tetapi ketika berbicara tentang kemanusiaan, tidak ada batas wilayah,” katanya.













