Deskripsi Gambar

Belitung TimurBeritaPertambangan

Belitung Timur Masih Terikat Timah: Ketika Tambang Sepi, Warung dan UMKM Ikut Kehilangan Pembeli

×

Belitung Timur Masih Terikat Timah: Ketika Tambang Sepi, Warung dan UMKM Ikut Kehilangan Pembeli

Sebarkan artikel ini

Belitung Timur Masih Terikat Timah: Ketika Tambang Sepi, Warung dan UMKM Ikut Kehilangan Pembeli (E: Yosua.Asw)

BELITUNG TIMUR, LIPUTANSATU .COM, — Pagi boleh tetap datang seperti biasa. Pasar tetap buka. Warung kopi tetap mengepul. Pedagang tetap menata barang dagangan.

Tetapi ada sesuatu yang berubah: pembeli tidak seramai biasanya.

Di Belitung Timur, melemahnya aktivitas timah kembali memperlihatkan satu kenyataan yang belum benar-benar terputus—perekonomian masyarakat masih sangat bergantung pada denyut komoditas tersebut.

Ketika timah menghasilkan uang, uang itu bergerak ke mana-mana. Ke pasar, warung kopi, UMKM, pedagang, transportasi hingga sektor jasa.

Sebaliknya, ketika perputaran timah melemah, efeknya ikut menjalar ke kantong masyarakat.

Hal itu disampaikan Endang Purwono, pelaku UMKM asal Kampung Baru yang aktif dalam pengembangan komunitas ekonomi kreatif.

Ia mengatakan, dalam beberapa hari terakhir kondisi ekonomi di lingkungannya masih terasa sepi.

“Kalau saya lihat dalam beberapa hari ini situasi masih sama saja. Kegiatan aktivitas di kawasan kami juga masih biasa-biasa saja. Kondisi ekonomi memang jauh, tidak bergerak,” kata Endang.

Pasar menjadi salah satu indikator yang paling mudah terlihat.

Aktivitas jual beli belum ramai. Begitu pula warung-warung kopi yang biasanya menjadi tempat masyarakat berkumpul dan menghabiskan waktu.

Endang mengaku sempat berbincang dengan sejumlah pemilik warung kopi. Keluhan mereka hampir sama: omzet menurun.

“Dari pasar, kegiatan aktivitas di pasar sepi. Di warung-warung kopi juga sepi. Saya sempat ngobrol dengan teman yang punya warung kopi, omzetnya jauh turun. Malam hari yang seharusnya orang santai dan ngopi, sekarang sepi,” ujarnya.

Menurut Endang, situasi tersebut tidak bisa dilepaskan dari daya beli masyarakat.

Timah memiliki efek berantai. Ketika pendapatan masyarakat dari timah meningkat, uang kemudian dibelanjakan kembali di berbagai sektor.

Masyarakat membeli kebutuhan sehari-hari, makan di warung, minum kopi, membeli produk UMKM, menggunakan jasa transportasi hingga berbelanja ke daerah lain.

“Memang terasa. Kalau timahnya harganya lebih bagus, masyarakat punya uang lebih, pasar pasti ramai. Mereka juga punya uang lebih untuk jalan-jalan atau belanja produk UMKM,” katanya.

Namun, ketika sumber pendapatan tersebut melemah, rantai ekonomi ikut tersendat.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *