Cinta Tanah Air Tak Lagi dengan Bambu Runcing, Mahasiswa Babel Diminta Menang Melalui Ilmu dan Teknologi (P/E: Yosua.Asw)
SUNGAILIAT, LIPUTANSATU .COM, — Zaman telah berubah. Musuh tidak lagi datang membawa senjata ke medan perang. Tantangan hari ini bergerak melalui layar, data, teknologi dan perubahan yang berlangsung begitu cepat.
Karena itu, cara mencintai tanah air pun harus berubah.
Pesan tersebut disampaikan Anggota DPR RI daerah pemilihan Bangka Belitung, Ir. Rudianto Tjen, saat menjadi pemateri dalam Kuliah Umum bertema “Cinta Tanah Air di Era Digital” di Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung (Polman Babel), 20 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut digelar oleh Direktur Polman Babel, I Made Andik Setiawan, M.Eng., Ph.D., dan diikuti sekitar 300 mahasiswa dan mahasiswi.

Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Anggota DPRD Provinsi Babel sekaligus Direktur Rudi Center, Imam Wahyudi, S.IP., MH, Senator Babel Dr. Bahar Buhasan, ST., MM, serta Ketua DPC PDIP Kabupaten Bangka yang juga Anggota DPRD Kabupaten Bangka, Erigustian.
Suasana kuliah umum berlangsung penuh perhatian. Para mahasiswa menyimak pesan yang disampaikan, seolah diajak melihat kembali makna cinta tanah air dalam dunia yang sudah berubah.
Dulu Bambu Runcing, Kini Teknologi
Rudianto Tjen, putra kelahiran Sungailiat yang tumbuh dan besar di Bangka Belitung, mengajak mahasiswa memahami bahwa perjuangan tidak pernah benar-benar selesai. Yang berubah hanyalah medan dan senjatanya.
Ia mengatakan generasi terdahulu mempertahankan tanah air dengan keberanian dan peralatan sederhana. Kini, generasi muda menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks melalui perkembangan teknologi digital.
“Bedanya dulu perjuangan melawan penjajah dan dilakukan mati-matian dengan berbekal bambu runcing dan peralatan yang sederhana sebagai wujud cinta tanah air,” katanya.
“Sekarang berbeda, perjuangan untuk mengatasi era digitalisasi yang semakin canggih hari ini,” lanjutnya.
Rudianto menegaskan mahasiswa harus memiliki mental pejuang. Bukan sekadar pintar menggunakan teknologi, tetapi mampu menghasilkan sesuatu yang memberikan manfaat.
Disiplin dan pengetahuan, menurutnya, menjadi dua modal utama.
Mahasiswa harus belajar, berkarya, menjaga sekaligus berkontribusi melalui teknologi yang mereka kuasai.
Jangan Hanya Menjadi Penonton Teknologi













