Deskripsi Gambar

Belitung TimurBeritaPertambangan

Ekonomi Rakyat Jangan Jadi Korban Gejolak, Kades Jangkar Asam: Apa Pun Masalahnya, Duduk dan Berdialog!

×

Ekonomi Rakyat Jangan Jadi Korban Gejolak, Kades Jangkar Asam: Apa Pun Masalahnya, Duduk dan Berdialog!

Sebarkan artikel ini

Ekonomi Rakyat Jangan Jadi Korban Gejolak, Kades Jangkar Asam: Apa Pun Masalahnya, Duduk dan Berdialog! (E: Yosua.Asw)

BELITUNG TIMUR, LIPUTANSATU .COM, — Ketika suara-suara perbedaan mulai meninggi, ada satu hal yang jangan sampai dilupakan: di balik setiap persoalan daerah, ada masyarakat yang harus tetap bekerja dan keluarga yang harus tetap makan.

Bagi Kepala Desa Jangkar Asam, Kecamatan Gantung, Fahrizal, ketenangan Belitung Timur bukan sekadar soal keamanan. Kondusivitas adalah fondasi agar masyarakat tetap bisa menjalankan aktivitas dan roda perekonomian tidak ikut terseret dalam gejolak.

Karena itu, ia meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi dan memilih jalan dialog ketika menghadapi persoalan yang menyangkut kepentingan bersama.

“Saya mengimbau kawan-kawan, saudara-saudara, baik di Desa Jangkar Asam maupun di Kecamatan Gantung, terkait keamanan dan kondusivitas di daerah kita masing-masing,” kata Fahrizal.

Pesan tersebut menjadi penting karena persoalan komoditas timah memiliki kaitan erat dengan denyut ekonomi sebagian masyarakat Belitung Timur.

Ketika persoalan timah memanas, yang ikut dipertaruhkan bukan hanya kepentingan satu kelompok. Dampaknya dapat menyentuh kehidupan ekonomi masyarakat secara lebih luas.

Karena itu, menurut Fahrizal, tidak boleh ada pihak yang merasa paling berhak menentukan arah penyelesaian sendiri.

Pemerintah, Forkopimda, perusahaan, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, penambang, dan elemen masyarakat lainnya harus duduk dalam satu ruang dialog.

“Kita sama-sama percaya dengan apa yang telah dilakukan Forkopimda dan elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, agar perekonomian masyarakat Belitung Timur ke depan jauh lebih baik lagi,” ujarnya.

Fahrizal menyebut aksi unjuk rasa yang terjadi sebelumnya harus menjadi bahan evaluasi bersama.

Bukan untuk mencari siapa yang paling benar dan siapa yang paling salah, melainkan untuk memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Menurutnya, aspirasi masyarakat harus memiliki ruang untuk disampaikan. Begitu pula perusahaan dan pemerintah perlu memiliki ruang untuk menjelaskan kebijakan serta langkah yang diambil.

Di sinilah dialog menjadi penting.

Fahrizal secara khusus berharap PT TIMAH lebih intens membangun komunikasi dengan masyarakat sebelum menjalankan kebijakan yang berpotensi bersinggungan dengan aktivitas ekonomi warga.

“Harapan kita ke depan, dari pihak PT TIMAH lebih fokus kepada masyarakat untuk berdialog. Sebelum ada kejadian seperti sebelumnya, lebih baik kita berdialog dengan mengundang tokoh agama, tokoh adat, tokoh kampung, para penambang dan elemen masyarakat lainnya,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *