Deskripsi Gambar

BeritaNasionalORGANISASIPers

Ketika Desa Dijaga dan Fakta Ditegakkan, SMSI Titip Pesan untuk Pers Indonesia

×

Ketika Desa Dijaga dan Fakta Ditegakkan, SMSI Titip Pesan untuk Pers Indonesia

Sebarkan artikel ini

Ketika Desa Dijaga dan Fakta Ditegakkan, SMSI Titip Pesan untuk Pers Indonesia (E: Yosua.Asw)

JAKARTA, LIPUTANSATU .COM, — Di tengah Jakarta yang riuh oleh kabar demonstrasi, arus informasi bergerak lebih cepat daripada fakta. Potongan video berseliweran. Narasi saling bertabrakan. Kekhawatiran terhadap stabilitas pun mudah membesar hanya karena informasi yang belum tentu utuh.

Di tengah suasana seperti itu, SMSI justru memilih menghadirkan pesan yang berbeda: menjaga informasi berarti menjaga masyarakat, dan merawat desa berarti ikut merawat Indonesia.

Pesan tersebut mengemuka dalam pengukuhan Pokja Newsroom Jaga Desa yang digelar di Hall Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta.

Ketua Umum SMSI Pusat, Drs. Firdaus, M.Si., menegaskan desa harus ditempatkan sebagai garda depan pembangunan sekaligus etalase negara.

“Saya setuju desa menjadi garda depan dan etalase negara, tidak menjadi entitas yang dinomorduakan,” ujar Firdaus.

Bagi SMSI, gagasan Newsroom Jaga Desa lahir dari kesadaran bahwa desa memiliki denyut kehidupan yang tidak kalah penting dibanding pusat kekuasaan. Dari desa, pembangunan berlangsung. Dari desa pula berbagai persoalan rakyat bermula dan seharusnya mendapat ruang untuk disuarakan.

Namun pesan tentang desa itu beriringan dengan pesan lain yang tak kalah penting: bagaimana pers menjaga agar informasi tidak berubah menjadi sumber kegaduhan.

Hasyim S. Djojohadikusumo, yang hadir sebagai keynote speaker dalam dialog nasional, memberikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut.

“Saya percaya SMSI, saya mengapresiasi kegiatan ini karena itu saya datang,” ucap Hasyim.

Ia bahkan menyebut kegiatan tersebut sebagai bukti langsung bahwa Jakarta tetap aman dan kondusif di tengah kabar mengenai eskalasi demonstrasi.

“Ini bukan hanya konfirmasi, tetapi testimoni nyata di sini (Jakarta-red) aman dan kondusif. Selamat SMSI, ini kegiatan positif dan sangat bagus,” katanya.

Namun bagi Hasyim, persoalan yang lebih besar justru berada di balik derasnya arus informasi.

Pers, katanya, tidak boleh ikut terseret dalam arus pemberitaan yang kehilangan konteks.

“Jangan menjadi pers yang menyesatkan. Sampaikan informasi secara utuh dengan data dan fakta,” tegasnya.

Peringatan itu terasa semakin relevan ketika informasi yang sepotong-sepotong dapat membentuk persepsi publik yang keliru. Apalagi jika informasi tersebut berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang sedang menjadi prioritas.

Hasyim mengatakan, pihaknya telah menyiapkan agenda dialog dengan BEM UI, UGM, dan ITB. Dialog tersebut diharapkan menjadi ruang untuk mendengar kritik, menyerap masukan, sekaligus menemukan celah yang perlu diperbaiki pemerintah.

“Sebagai penasihat Presiden, masukan-masukan dari kampus akan kami sampaikan dan rekomendasikan kepada Presiden untuk pembenahan,” tambahnya.

Memulai dari Lima Provinsi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *